Lima Kripto Teratas Ini Kompak Terjun Bebas

Lima Kripto Teratas Ini Kompak Terjun Bebas
Foto ilustrasi pada 19 Juli 2021 di Istanbul menunjukkan uang kertas fisik dan koin tiruan dari mata uang kripto Bitcoin. Bitcoin menembus angka US$ 60.000 untuk pertama kalinya sejak April pada 15 Oktober 2021. (Foto: AFP)

Riauaktual.com - Lima aset kripto teratas yaitu bitcoin (BTC), ethereum (ETH), binance coin (BNB), tether (USDT), dan solana (SOL) pada perdagangan Jumat (14/1/2022) pagi kompak terjun bebas. Adapun, ETH merupakan koin yang turun paling dalam.

Mengutip coinmarketcap.com pukul 05.52 WIB, BTC anjlok ke US$ 42.621,47 atau turun 2,77% dalam sehari dan anjlok 1,34%.

ETH dalam perdagangan sehari juga anjlok 3,46% menjadi US$ 3.255,06, namun dalam sepekan masih minus 5,14%. USDT dalam sehari turun tipis 0,01% ke US$ 1 dan sepekan naik 0,01%.

Begitu juga dengan BNB yang ikut melemah 1,93% dalam sehari ke US$ 476,87 dan sepekan ini naik 0,09%. SOL juga turun 3,49% dalam sehari ke US$ 147,06 dan dalam sepekan 3,13%.

Setelah menembus rentang konsolidasi sebulan terakhir, BTC telah menguji level support US$ 40,000 atau sekitar Rp 570 juta. Bitcoin menembus sisi bawah rentang konsolidasinya pekan lalu dan support kini berada di level US$ 40,000. Di mana BTC menyentuh kisaran US$ 30,000 untuk pertama kalinya sejak bulan September.

Dalam riset mingguan Luno, Kamis (13/1/2022) dikatakan US$ 40.000 menjadi level support yang penting, meskipun kemarin sempat mengalami breakout sebelum kembali pulih. Setelah aksi jual minggu lalu, angka US$ 45.000 atau sekitar Rp 645 juta kini berbalik dari support menjadi level resistance.

Pemulihan cepat ke rentang konsolidasi akan menjadi sinyal bullish yang positif dan US$ 52.000 akan menjadi level resistance yang perlu diuji berikutnya.

“Jika harga bergerak ke bawah, maka level support akan berada di kisaran US$ 37.500 atau sekitar Rp 537 juta. Level ini sempat menjadi level support pada aksi jual singkat Agustus lalu. Jika bergerak di bawah level ini, maka support berikutnya ada di kisaran US$ 30.000 atau sekitar Rp 430 juta,” tulis Country Manager Luno Indonesia Jay Jayawijayaningtiyas.

Jay mengungkapkan, awal tahun 2022, terdapat penurunan harga BTC sebesar 10% yang kemungkinan besar disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya oleh pertemuan The Fed (Federal Reserve System) yang mengindikasikan adanya quantitative tightening. Hal ini turut juga menyebabkan aset-aset yang berisiko tinggi termasuk BTC langsung turun secara drastis.

“Meskipun para trader atau investor mengharapkan 2022 diawali dengan kondisi pasar kripto yang lebih baik, indeks level Fear and Greed awal tahun 2022 menurun ke angka 10 di mana merupakan level terendah dalam enam bulan terakhir,” katanya.

 

 

Sumber: Investor Daily

Berita Lainnya

View All