PSR PTPN IV Regional III Dongkrak Produktivitas Sawit Petani Siak, Tembus 19,3 Ton per Hektare

Kamis, 05 November 2026 | 17:23:39 WIB
PSR PTPN IV Regional III Dongkrak Produktivitas Sawit Petani Siak.

SIAK (RA) - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dijalankan PTPN IV PalmCo melalui PTPN IV Regional III mulai menunjukkan hasil positif. Sejumlah koperasi petani sawit mitra di Kabupaten Siak berhasil mencatatkan produktivitas tandan buah segar (TBS) di atas standar nasional.

Capaian tertinggi diraih Koperasi Produsen Unit Desa Budi Sawit dengan produktivitas mencapai 19,3 ton per hektare (Ha), atau 129 persen dari standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebesar 15 ton/Ha.

Sementara itu, Koperasi Produsen Unit Desa Lembah Sawit mencatatkan produktivitas 17,4 ton/Ha atau 116,15 persen dari standar tersebut. Adapun Koperasi Produsen Karya Tani membukukan produktivitas 13,3 ton/Ha.

Ketua Koperasi Produsen Unit Desa Budi Sawit, Suwardi, mengatakan program PSR memberikan banyak manfaat bagi petani, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan memperbaiki tata kelola perkebunan.

“Melalui program PSR ini, petani mendapatkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dan tentu sulit dilakukan secara mandiri," kata Suwardi.

Hal senada disampaikan Ketua Koperasi Produsen Unit Desa Lembah Sawit, Suparman. Menurutnya, keberhasilan PSR tidak hanya terletak pada peremajaan tanaman, tetapi juga pembenahan sistem pengelolaan perkebunan dan penguatan kelembagaan petani.

Ia menilai pendampingan PTPN IV Regional III serta penerapan sistem pengelolaan terpadu membantu koperasi meningkatkan kapasitas pengelolaan kebun dan mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih baik.

“Peremajaan tanaman menjadi titik awal. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebun dikelola setelah diremajakan. Dengan sistem single management, bibit unggul bersertifikat, serta pendampingan dari PTPN IV, pengelolaan kebun menjadi lebih terarah,” ujarnya.

Ketua Koperasi Produsen Karya Tani, Sanimin, juga menyebut PSR memberikan kesempatan kepada petani untuk membangun kembali kebun dengan fondasi yang lebih baik.

Ia berharap pola kemitraan dan pendampingan yang telah berjalan dapat terus dipertahankan hingga tanaman menghasilkan secara optimal.

“Petani tentu ingin kebunnya produktif dalam jangka panjang. Melalui PSR, kami mendapat dukungan mulai dari peremajaan, penggunaan bibit unggul, hingga pendampingan pengelolaan kebun,” katanya.

Ketiga koperasi tersebut menjalankan program PSR secara bertahap. Koperasi Produsen Unit Desa Budi Sawit telah merealisasikan tahap pertama seluas 90 hektare pada 2020, kemudian melanjutkan tahap kedua seluas 66 hektare pada 2025.

Selanjutnya, Koperasi Produsen Unit Desa Lembah Sawit merealisasikan tahap pertama seluas 160 hektare pada 2020 dan merencanakan tahap kedua seluas 173,2469 hektare pada 2026.

Sementara Koperasi Produsen Karya Tani telah merealisasikan PSR tahap pertama seluas 214 hektare pada 2021 dan merencanakan tahap kedua seluas 122,9623 hektare pada 2026.

Dalam pelaksanaan program tersebut, PTPN IV mengusung empat inisiatif utama. Mulai dari penerapan kebijakan single management dalam pengelolaan kebun, penggunaan bibit sawit unggul bersertifikat, kemitraan melalui pembinaan off-taker berupa jaminan harga dan penyerapan hasil panen, hingga pendampingan teknis tata kelola perkebunan anggota koperasi.

Pelaksana Tugas Region Head PTPN IV Regional III, Sori Ritonga, mengatakan capaian produktivitas petani mitra menjadi bukti bahwa program PSR yang didukung tata kelola dan pendampingan berkelanjutan dapat memberikan dampak positif bagi perkebunan rakyat.

Menurutnya, keberhasilan program PSR tidak cukup diukur dari luas lahan yang diremajakan, tetapi juga dari kemampuan kebun menghasilkan produktivitas optimal.

“Keberhasilan PSR tidak cukup diukur dari berapa luas lahan yang diremajakan. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebun tersebut dikelola, tumbuh, dan akhirnya menghasilkan produktivitas yang optimal,” ujar Sori.

Ia menambahkan, PTPN IV Regional III terus mendorong pengelolaan perkebunan rakyat secara terintegrasi, penggunaan bibit unggul bersertifikat, serta penguatan kelembagaan pekebun agar memiliki produktivitas dan daya saing lebih baik.

Terkini

Terpopuler