Pemerintah Targetkan BBM Bensin Bioetanol Berlaku 2027

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:53:00 WIB
Foto ilustrasi.

JAKARTA (RA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin yang dicampur 10 persen bioetanol atau E10 mulai berjalan pada 2027. Saat ini, pemerintah tengah mempersiapkan aspek teknis untuk mendukung penerapan kebijakan tersebut.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan persiapan teknis sedang dilakukan untuk menerapkan kewajiban pencampuran bioetanol ke dalam BBM.

Menurut Eniya, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan bahan baku serta komitmen pemenuhannya dari dalam negeri.

"Tinggal nanti bahan bakunya komitmennya bagaimana, kita sekarang sedang mempersiapkan teknisnya untuk bisa ke arah mandatory. Selaras dengan itu memang sudah ada ketentuan di Permen bahwa bahan bakunya kan memang dari dalam, jadi nanti terkumpul berapa," kata Eniya di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Eniya mengungkapkan, ketersediaan stok etanol atau bahan baku yang dibutuhkan untuk mendukung program tersebut saat ini masih terbatas. Stok yang tersedia tercatat baru sekitar 70.500 kiloliter (KL).

Sementara itu, pemerintah juga memiliki target pengembangan campuran bensin dengan bioetanol hingga 20 persen atau E20 pada 2028. Untuk mencapai target tersebut, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai 400.000 hingga 500.000 KL.

"Karena kalau mau E20 di 2028 itu juga harus tambah banyak. Paling minimal itu kan kita perlu 400.000 KL, bertahap terus 500.000, naik-naik terus," ujarnya.

Untuk mendukung penerapan E10 pada 2027, pemerintah turut mendorong peningkatan kapasitas produksi etanol dalam negeri. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan 11 pabrik etanol baru.

Eniya mengatakan, sejumlah rencana pembangunan pabrik tersebut masih dalam tahap persiapan, termasuk pembahasan nota kesepahaman (MoU) dan kepastian lahan.

"Kita sih menghitungnya sudah ada sekitar perencanaan 11 pabrik baru. Itu mau MoU, memastikan lahan dan lain sebagainya," jelasnya.

Selain membangun pabrik baru, pemerintah juga mendukung revitalisasi pabrik etanol yang sudah beroperasi. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dan ketersediaan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan pencampuran bioetanol dalam BBM.

"Tapi kalau untuk revitalisasi pabrik-pabrik yang lama kita sangat mendukung, pokoknya semua menghasilkan feedstock baru karena yang terkumpul hanya sedikit nih," tutup Eniya.
 

Tags

Terkini

Terpopuler