Puluhan Warga Luka-luka Diserang OTK di Kebun Sawit Rohul, Diduga Didalangi Agrinas

Ahad, 16 Agustus 2026 | 10:07:46 WIB
Sejumlah warga tampak luka-luka diserang sekelompok OTK di Rohul.

PEKANBARU (RA) - Puluhan warga mengalami luka-luka setelah diserang sekelompok orang tak dikenal (OTK) saat berada di kawasan kebun sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, Jumat (14/8/2026).

Sehari setelah kejadian, Sabtu (15/8/2026), sejumlah korban mendatangi Polsek Tambusai Utara untuk melaporkan peristiwa tersebut. Mereka menjalani pemeriksaan dan dimintai keterangan oleh polisi.

Sejumlah korban terlihat mengalami luka pada bagian kepala, tangan, kaki, rusuk hingga mata. Beberapa di antaranya harus mendapat perawatan akibat luka yang diderita.

Salah seorang korban, Gunawan (31), mengatakan penyerangan terjadi ketika dirinya bersama sejumlah pekerja sedang beristirahat di mess setelah membersihkan kebun.

Menurutnya, tiba-tiba datang sekelompok orang menggunakan tiga truk Colt Diesel dan dua mobil double cabin. Mereka kemudian berteriak dan menyerang para pekerja.

"Waktu itu kami sedang duduk-duduk di mess habis bekerja bersihkan kebun, tiba-tiba datang gerombolan orang tak dikenal. Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," ujar Gunawan, Sabtu.

Gunawan mengaku dipukul menggunakan kayu dan besi. Akibatnya, hidung dan tangannya mengalami luka hingga harus diperban.

Ia juga mengaku mendapat ancaman menggunakan senjata api serta kehilangan dua telepon selulernya.

"Saya juga diancam pakai senjata api, dua ponsel saya dijarah," katanya.

Korban lainnya, Rizaldi (44), mengalami luka di sejumlah bagian tubuh. Kepalanya mengalami luka terbuka, sementara tangan dan bagian matanya terkena pukulan serta tendangan.

"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang, saya diseret-seret," ungkap Rizaldi.

Rizaldi mengatakan dirinya bersama para pekerja lain tidak mampu melakukan perlawanan karena para penyerang membawa senjata.

"Kami hanya bisa bilang 'aduh, aduh, ampun, ampun, Pak'. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami," ujarnya.

Menurut Rizaldi, setelah melakukan penyerangan, para korban dikumpulkan dan dibawa keluar dari kawasan kebun menggunakan truk. Saat melintas di depan Polsek Tambusai Utara, mereka berteriak meminta pertolongan.

Ia memperkirakan sekitar 25 orang mengalami luka-luka, dengan satu korban disebut dalam kondisi kritis. Sementara sekitar 28 pekerja lainnya masih berada di dalam kawasan kebun dan belum diketahui kondisinya.

Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, mengatakan kasus tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian. Ia meminta aparat mengusut tuntas penyerangan dan menangkap seluruh pihak yang terlibat.

Aziz juga menyatakan masyarakat akan membawa persoalan tersebut ke Mabes Polri dan DPR RI, bahkan berencana menyurati Presiden.

Menurut Aziz, peristiwa tersebut berkaitan dengan persoalan lahan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat seluas sekitar 2.000 hektare yang berada di Afdeling 19 dan 21. Lahan tersebut disebut menjadi sumber penghidupan sekitar 1.015 warga.

Aziz menjelaskan, lahan itu sebelumnya dipercayakan masyarakat untuk dikelola PT Torganda dengan pola kemitraan "Bapak Angkat". Perusahaan kemudian menunjuk Koperasi Karya Bakti sebagai mitra dan masyarakat bergabung dalam koperasi tersebut.

Pada 2025, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) melakukan penyitaan terhadap lahan tersebut karena disebut masuk kawasan hutan. Selanjutnya, pengelolaan lahan sitaan diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara.

Aziz menyebut masyarakat yang mengklaim sebagai pemilik lahan kemudian tidak lagi mendapatkan hasil dari perkebunan tersebut. Kondisi itu mendorong warga berupaya mengambil kembali lahan yang mereka klaim sebagai miliknya.

"Karena sudah tidak dapat apa-apa lagi, itulah makanya warga ingin mengambil kembali lahannya untuk masa depan mereka. Namun, upaya ini memicu bentrokan hingga penyerangan terhadap warga," kata Aziz.

Ia meminta pemerintah memastikan terlebih dahulu status dan dasar hukum kepemilikan maupun penguasaan lahan agar konflik tidak semakin meluas.

Aziz juga menyampaikan dugaan masyarakat mengenai keterlibatan PT Agrinas Palma Nusantara dalam penyerangan tersebut.

"Kuat dugaan kami penyerangan itu didalangi oleh Agrinas. Kenapa saya bilang begitu, karena pada 14 Agustus 2026, kuasa hukum Agrinas berkirim surat ke Polres Rohul," ujar Aziz.

Menurut Aziz, salah satu poin dalam surat tersebut berkaitan dengan potensi terjadinya bentrokan di lapangan. Namun, ia tidak menjelaskan lebih jauh isi surat tersebut selain menyebut adanya pernyataan terkait kemungkinan bentrokan berdarah.

Aziz mempertanyakan dasar penguasaan lahan oleh Agrinas setelah lahan tersebut diserahkan oleh Satgas PKH.

"Kami ingin tahu dasarnya Agrinas mengatakan itu lahannya apa? Kalau kemudian lantaran pelimpahan dari Satgas PKH, bukan berarti Agrinas langsung bisa seenaknya mengelola lahan itu," katanya.

Ia juga mempertanyakan status kawasan hutan serta proses pengukuhan kawasan tersebut.

Namun, seluruh tudingan dan dugaan keterlibatan Agrinas dalam penyerangan masih merupakan pernyataan dari pihak masyarakat dan belum terbukti secara hukum.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Hasyim Risahondua membenarkan adanya laporan terkait penyerangan tersebut.

Kasus itu telah dilaporkan ke Polsek Tambusai Utara. Polisi juga telah melakukan sejumlah langkah awal, termasuk membawa korban untuk menjalani visum, membuat laporan serta memeriksa para korban.

"Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas," kata Hasyim melalui pesan WhatsApp, Sabtu.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, terkait dugaan keterlibatan perusahaan dalam penyerangan tersebut belum mendapatkan respons.

Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi lengkap, motif penyerangan, identitas para pelaku, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Tags

Terkini

Terpopuler