Wamenkes Minta Seluruh Kontak Erat Pasien TBC di Riau Diperiksa

Selasa, 04 Agustus 2026 | 18:13:00 WIB
Dialog Wamenkes Bersama Pemprov Riau, Selasa (4/8/2026).

PEKANBARU (RA) - Wakil Menteri Kesehatan RI, dr Benjamin Paulus Octavianus menegaskan seluruh keluarga dan kontak erat pasien tuberkulosis (TBC) harus ditelusuri dan diperiksa 100 persen.

Strategi ini menjadi langkah utama pemerintah untuk memutus rantai penularan sekaligus mengejar target eliminasi TBC di Indonesia pada 2030.

Hal tersebut disampaikannya saat dialog bersama Pemerintah Provinsi Riau mengenai percepatan penanggulangan TBC yang dirangkaikan dengan penyerahan Portable X-Ray untuk RSUD Rokan Hulu di Aula RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, Selasa (4/8/2026).

"Kami sekarang membuat program supaya orang yang kontak erat dengan pasien TB harus 100 persen diperiksa. Yang kontak serumah, kontak erat, semuanya harus diperiksa. Jadi tidak hanya yang sakit saja yang diperiksa," tegas dr Benny.

Ia menjelaskan, seseorang yang baru tertular bakteri TBC belum tentu langsung menunjukkan gejala. Masa inkubasi penyakit dapat berlangsung sekitar 10 hingga 12 minggu, bahkan bakteri bisa berada dalam kondisi dorman di dalam tubuh selama bertahun-tahun sebelum akhirnya aktif.

"Kalau hari ini seseorang tertular, belum tentu langsung sakit. Bisa 10 sampai 12 minggu baru muncul gejala, bahkan kumannya bisa tidur di dalam tubuh satu atau dua tahun sebelum aktif. Karena itu kontak erat harus segera ditemukan dan diperiksa," jelasnya.

Untuk mempercepat pelacakan, Kemenkes menyiapkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) khusus TBC yang dilengkapi Portable X-Ray berbobot sekitar tiga kilogram sehingga mudah dibawa ke daerah terpencil menggunakan sepeda motor.

"Alat ini bisa dibawa ke kampung-kampung. Pemeriksaan tidak harus di rumah sakit. Bisa dilakukan di kantor desa, balai pertemuan, posyandu, atau lokasi lain yang dekat dengan masyarakat," ujarnya.

Menurut dr Benny, pendekatan jemput bola menjadi solusi bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Ia mencontohkan warga di daerah kepulauan atau pelosok seperti Kepulauan Meranti yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai puskesmas.

Selain pemeriksaan, kontak erat yang belum sakit tetapi telah terpapar akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mencegah berkembangnya penyakit.

"Mereka yang belum sakit tetapi sudah tertular akan diberikan obat pencegahan. Diminum seminggu sekali selama 12 kali sehingga risiko berkembang menjadi TBC aktif bisa ditekan," katanya.

Di Riau, Kemenkes telah memetakan lokus pelaksanaan CKG khusus TBC di 1.170 titik. Di setiap titik lokus tersebut juga mendapat dukungan anggaran operasional diantaranya untuk mendukung tenaga kesehatan dan petugas lapangan dalam melakukan pelacakan kasus.

"Kami sudah siapkan anggaran operasional, alat rontgen, obat, hingga terapi pencegahannya. Yang kami butuhkan sekarang adalah dukungan pemerintah daerah untuk menggerakkan masyarakat datang diperiksa," ujar dr. Benny.

Ia menegaskan keberhasilan eliminasi TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Peran gubernur, bupati, camat, lurah hingga kepala desa sangat penting untuk memastikan seluruh kontak erat pasien dapat ditemukan dan menjalani pemeriksaan.

"Kalau semua kontak erat berhasil kita telusuri, diperiksa, dan yang berisiko diberikan terapi pencegahan, maka rantai penularan TBC bisa diputus. Ini kunci untuk mencapai target eliminasi TBC tahun 2030," pungkasnya.

Tags

Terkini

Terpopuler