25 Tahun Bersama Indro, Mahout Ungkap Kesetiaan Sang Gajah hingga Akhir Hayat

Kamis, 02 Juli 2026 | 14:06:42 WIB
Fikri Pohan, mahout yang telah merawat Indro selama sekitar 25 tahun.

PELALAWAN (RA) - Kepergian gajah jinak Sumatera bernama Indro meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Di balik sosok Indro yang dikenal tangguh dalam mendukung upaya mitigasi konflik manusia dan gajah, tersimpan ikatan emosional yang begitu kuat dengan mahout-nya, Fikri Pohan, yang telah merawatnya selama sekitar 25 tahun.

Fikri mengaku hingga kini masih belum bisa menerima kepergian gajah kesayangannya itu. Rasa kehilangan yang begitu besar membuatnya masih diliputi kesedihan.

"Sampai saat ini saya masih shock dengan kepergian Indro. Rasanya hancur karena sudah sangat lama bersama dia," ujar Fikri.

Indro mulai bergabung dengan Flying Squad pada 2002 setelah didatangkan dari Pusat Latihan Gajah Minas. Sebelumnya, Indro merupakan gajah sirkus yang kemudian diselamatkan dan dilatih untuk mendukung upaya konservasi.

Sejak Indro berumur 16 tahun, Fikri Pohan dipercaya menjadi mahout yang mendampingi dan merawat Indro. Kebersamaan keduanya pun terjalin selama sekitar 25 tahun hingga Indro mengembuskan napas terakhirnya.

Di mata Fikri, Indro adalah sahabat yang memiliki karakter istimewa. Meski bertubuh besar dan dikenal sebagai salah satu gajah terbaik, Indro memiliki sifat yang tenang dan penurut. Namun, karena ekspresinya sulit ditebak, banyak orang merasa segan untuk mendekatinya.

"Kalau bagi saya, Indro itu gajah yang paling setia sama mahout-nya. Tidak semua gajah seperti itu. Kalau orang lain yang mencoba dekat, dia tidak mau. Dia bisa membedakan mana mahout-nya, dan itu yang paling saya salutkan dari Indro," katanya.

Fikri juga mengenang Indro sebagai gajah bertubuh gemuk yang menggemaskan, tetapi tetap patuh dalam setiap tugas yang dijalankannya.

"Indro itu gemoy, badannya gempal, tapi sangat nurut dan setia," tuturnya.

Dari sekian banyak kenangan, satu peristiwa yang paling membekas terjadi ketika Indro diserang kawanan gajah liar. Saat itu Indro mengalami luka cukup parah hingga lehernya bengkok akibat dipijak.

"Yang paling saya ingat, waktu itu Indro diserang gajah liar sampai dipijak. Lehernya sudah bengkok, lalu dia lari ke arah saya dan Edi, mahout keduanya saat itu. Dia datang kepada kami seperti meminta pertolongan," kenang Fikri.

Kepergian Indro juga meninggalkan duka bagi seluruh tim Flying Squad yang selama bertahun-tahun bersamanya dalam menjaga kawasan Tesso Nilo.

Di tengah rasa kehilangan itu, Fikri berharap kelestarian gajah Sumatera semakin menjadi perhatian. 

Menurutnya, penyempitan habitat akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit telah memutus jalur jelajah gajah liar dan berdampak pada keberlangsungan populasi mereka.

"Sekarang jalur pergerakan gajah liar sudah semakin sempit karena banyak berubah menjadi kebun sawit. Dulu rombongan gajah liar masih sering lewat sehingga masih ada peluang bagi Indro untuk kawin. Tapi sekarang jalurnya sudah terputus," ujarnya.

Ia menambahkan, dalam hampir dua tahun terakhir, tidak ada lagi rombongan gajah liar yang melintas di kawasan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo.

"Hampir dua tahun sudah tidak ada lagi rombongan gajah liar yang lewat di Flying Squad ini. Itu menjadi tanda bahwa ruang hidup mereka memang semakin menyempit," pungkasnya.

Terkini

Terpopuler