PEKANBARU (RA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memastikan ketersediaan bahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk mendukung implementasi mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dalam kondisi aman.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan, untuk tahap awal implementasi B50 pada Juli hingga akhir tahun 2026, industri sawit nasional tidak akan menghadapi kendala pasokan bahan baku.
"Untuk implementasi Juli tidak ada masalah karena bahan baku mencukupi," kata Eddy kepada riauaktual.com, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, produksi CPO nasional pada semester I tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar 26 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik, termasuk tambahan kebutuhan untuk program B50.
Eddy menjelaskan, penerapan B50 hingga Desember 2026 diperkirakan membutuhkan tambahan bahan baku CPO sekitar 1,74 juta ton. Dengan proyeksi produksi yang ada, kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi tanpa mengganggu pasokan untuk sektor lainnya.
"Semester I diperkirakan produksi CPO sekitar 26 juta ton. Untuk produksi B50 hingga Desember 2026, kebutuhan bahan baku CPO sekitar 1,74 juta ton," ujarnya.
Implementasi B50 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik minyak sawit sekaligus mengurangi volume ekspor CPO Indonesia pada semester II 2026. Namun, GAPKI menilai kondisi tersebut masih dalam batas yang wajar mengingat produksi nasional yang tetap terjaga.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, program B50 juga diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Pemerintah bahkan memperkirakan kebijakan ini dapat menghemat devisa negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Meski optimistis terhadap implementasi B50, GAPKI mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi sawit nasional. Salah satunya melalui percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) guna meningkatkan produktivitas kebun petani.
Dengan pasokan bahan baku yang dinilai aman, industri sawit nasional diyakini siap mendukung penuh implementasi B50 sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi sekaligus memperkuat hilirisasi sawit di dalam negeri.