SIAK (RA) - Di tengah persaingan bisnis kuliner dan oleh-oleh yang semakin menjamur, tidak banyak usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Namun kondisi berbeda terlihat pada UMKM Mama Nizam, salah satu pelaku usaha oleh-oleh khas Siak yang tetap eksis dan menjadi pilihan pelanggan selama bertahun-tahun.
Berlokasi di Jalan Raja Kecik, Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak, usaha ini perlahan membangun identitas bukan sekadar sebagai tempat membeli makanan, tetapi juga menjadi tujuan masyarakat untuk membawa pulang cita rasa khas daerah.
Owner Mama Nizam, Syarifah Kemala, mengatakan bisnis oleh-oleh tidak hanya berbicara soal menjual makanan khas, tetapi juga memahami kebiasaan dan kebutuhan pelanggan.
“Orang membeli oleh-oleh karena ada momen sosial di belakangnya. Bisa untuk perjalanan dinas, kunjungan keluarga, pulang kampung, rapat kantor, acara pengajian sampai kebutuhan membawa buah tangan ketika bertamu,” ujar Syarifah, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, pelanggan pada dasarnya mencari tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman saat memilih produk untuk dibawa pulang.
Nama Mama Nizam sendiri sengaja dibangun dengan identitas yang dekat dengan masyarakat. Tidak terlalu modern, namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam beragam produk yang dijual, mulai dari roti, bolu, kue basah, snack box hingga makanan pendamping untuk berbagai kebutuhan harian.
Strategi itu dinilai membuat usaha lebih dekat dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Pelanggan tidak harus menunggu momen tertentu untuk datang. Ada yang membeli untuk sarapan, kebutuhan rapat, acara keluarga hingga sekadar mencari buah tangan.
Syarifah menilai keberlangsungan usaha makanan tidak ditentukan oleh produk yang sedang viral semata, tetapi oleh kemampuan menjaga konsistensi rasa dan kualitas.
“Produk viral memang bisa mendatangkan antrean. Tapi produk yang dipercaya akan mendatangkan kunjungan ulang,” katanya.
Ia menjelaskan, bisnis makanan yang sehat perlu memiliki keseimbangan antara produk penarik pelanggan, produk harian yang menopang operasional, dan produk bernilai tinggi yang memperkuat identitas usaha.
Selain itu, identitas daerah juga menjadi kekuatan yang ingin terus dikembangkan.
Menurutnya, Siak memiliki sejarah dan budaya Melayu yang kuat sehingga berpotensi menjadi nilai tambah dalam membangun citra produk lokal.
“Makanan sekarang tidak hanya dijual lewat rasa, tetapi juga lewat cerita dan identitas,” ujarnya.
Di tengah maraknya bakery modern, produk viral dan persaingan UMKM, Mama Nizam memilih fokus membangun kebiasaan pelanggan dibanding mengejar tren sesaat.
Syarifah meyakini bahwa kekuatan bisnis makanan sering kali hadir dari hal sederhana, yakni memahami kapan pelanggan membeli, untuk siapa makanan dibawa dan alasan mereka kembali.
“Produk lokal tidak harus tampil seadanya. Oleh-oleh daerah juga tidak harus terlihat kuno untuk bisa bertahan,” tutupnya.