BENGKALIS (RA) - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada berbagai sektor, termasuk harga obat-obatan yang sebagian besar bahan bakunya masih bergantung dari luar negeri.
Kondisi tersebut turut dirasakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkalis. Kepala Ruangan Farmasi RSUD Bengkalis, Dolphin, mengungkapkan hampir seluruh jenis obat yang tersedia mengalami kenaikan harga dalam dua bulan terakhir.
“Rata-rata bahan baku obat ini berasal dari luar negeri, sehingga tentunya mempengaruhi harga obat-obatan saat ini,” ujar Dolphin Kamis, (21/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada beberapa jenis obat tertentu, melainkan hampir merata pada sebagian besar stok obat yang tersedia di apotek rumah sakit.
Menurutnya, sekitar 80 persen obat-obatan di RSUD Bengkalis mengalami kenaikan harga dengan rata-rata peningkatan mencapai 12 persen dibanding sebelumnya.
“Kenaikan harga obat-obatan ini terjadi sekitar dua belas persen dari harga sebelumnya,” tambahnya.
Dolphin menilai, harga obat masih berpotensi terus mengalami kenaikan apabila nilai dolar terus menguat. Pasalnya, industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku.
“Bisa jadi kondisi obat akan terus naik, karena bahan obat kita dari luar. Kalau pabrik obat mendapatkan bahan mahal, tentu produk obat yang dijual juga akan naik. Sama seperti prinsip ekonomi,” jelasnya.
Meski demikian, pihak RSUD Bengkalis memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal dan stok obat tetap tersedia sesuai kebutuhan pasien.
Senada juga dikatakan Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSUD Bengkalis, Freddy Antoni, mengatakan pihak rumah sakit tidak akan melakukan pembatasan pembelian obat meskipun biaya pengadaan meningkat.
“Jadi pemesanan obat meskipun kondisi harga mengalami kenaikan, kita tetap mengadakan sesuai kebutuhan. Tidak mungkin dilakukan pembatasan atau pengurangan,” ujarnya.
Ia mengakui, kenaikan harga obat membuat pengeluaran rumah sakit ikut meningkat. Untuk mengantisipasi beban biaya tersebut, pihak RSUD Bengkalis melakukan negosiasi dengan perusahaan pemasok obat terkait mekanisme pembayaran.
“Pola pembayaran yang bisa kita sesuaikan akan diatur sesuai kemampuan kita dengan tenggang waktu melalui negosiasi dengan perusahaan supplier agar tetap bisa memenuhi kebutuhan obat,” jelas Freddy.
Menurutnya, langkah penghematan melalui pengurangan pembelian obat tidak memungkinkan dilakukan karena kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama.