Tren Sahur Tanpa Karbo Kembali Booming, Benarkah Bikin Puasa Lebih Bugar?

Ahad, 22 Februari 2026 | 04:43:28 WIB
Ilustrasi makanan sahur tanpa karbo.

RIAUAKTUAL (RA) - Tren sahur tanpa karbo kembali ramai diperbincangkan menjelang Ramadan 2026. Di berbagai platform media sosial, banyak warganet membagikan testimoni tentang pengalaman berpuasa tanpa mengonsumsi karbohidrat saat sahur. Mereka mengaku tubuh terasa lebih ringan, tidak cepat lapar, dan energi lebih stabil sepanjang hari.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun lalu, pola sahur tinggi protein dan serat sudah disuarakan oleh sejumlah pegiat kebugaran. Namun, tahun ini gaungnya terasa lebih kuat karena didukung gelombang konten edukasi dan pengalaman pribadi yang viral.

Melansir dari Liputan6, nama Ade Rai kembali mencuat dalam diskusi tentang pola makan saat puasa. Binaragawan senior kelahiran 6 Mei 1970 itu, sejak 2022 dalam berbagai kesempatan telah menganjurkan masyarakat untuk mengatur komposisi makan sahur jika ingin menjaga atau menurunkan berat badan selama Ramadan.

Menurutnya, puasa bukan sekadar ibadah, tetapi juga momentum memperbaiki gaya hidup. Ia menyoroti kebiasaan mayoritas masyarakat yang masih menjadikan karbohidrat sebagai menu utama sahur. Padahal, jika tujuan seseorang adalah optimalisasi pembakaran lemak, ia menyarankan agar sahur diisi dengan protein, lemak sehat, dan serat, tanpa atau dengan sangat sedikit karbohidrat.

Ade Rai menjelaskan bahwa ketika sahur tidak mengandung karbohidrat, tubuh tidak mengalami lonjakan insulin yang signifikan. Tanpa lonjakan tersebut, tubuh akan lebih cepat masuk ke mode pembakaran lemak (fat burning). Artinya, selama kurang lebih 20–22 jam tubuh memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi.

Ia juga menepis anggapan bahwa tanpa karbohidrat seseorang pasti akan lemas. Menurutnya, tubuh memiliki “kecerdasan metabolik” untuk mencari sumber energi alternatif, termasuk dari cadangan lemak di perut. Bahkan, ia menyebut waktu terbaik untuk berolahraga saat puasa adalah menjelang berbuka, karena secara hormonal tubuh sedang berada dalam fase optimal pembakaran lemak.

Menjelang Ramadan 2026, potongan pernyataan dan edukasi yang pernah ia sampaikan kembali viral. Banyak kreator konten membagikan pengalaman pribadi menjalani sahur tinggi protein dan serat tanpa nasi atau roti. Hasilnya, mereka mengaku tidak mudah mengantuk, lebih fokus bekerja, dan berat badan lebih terkontrol selama bulan puasa.

Untuk memahami fenomena ini, penting melihat penjelasan dari sisi ilmu gizi. Berdasarkan penjelasan pakar gizi masyarakat dari IPB University, Resa Ana Dina, rasa lapar saat puasa tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak makanan yang dikonsumsi, tetapi oleh kualitas dan komposisinya.

Konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan—seperti nasi putih dalam porsi besar, roti manis, atau minuman tinggi gula—dapat menyebabkan kadar gula darah naik cepat lalu turun drastis. Fluktuasi ini yang kerap memicu rasa lapar lebih awal, bahkan baru beberapa jam setelah sahur.

Resa menekankan bahwa protein adalah zat gizi yang paling kuat menahan rasa lapar karena memperlambat pengosongan lambung. Sementara itu, serat membantu menstabilkan gula darah sehingga energi dilepas secara bertahap. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau ubi juga dicerna lebih lambat dibanding karbohidrat sederhana.

Dari sudut pandang ini, bukan berarti semua karbohidrat harus dihindari. Namun, mengurangi karbohidrat sederhana dan memperbanyak protein serta serat memang dapat membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.

Di sinilah tren sahur tanpa karbo menemukan momentumnya. Banyak orang menilai bahwa dengan menghilangkan karbohidrat saat sahur, mereka dapat menghindari lonjakan gula darah dan mempertahankan kestabilan energi lebih lama.

Meski terdengar menjanjikan, tren sahur tanpa karbo tidak otomatis cocok untuk semua individu. Bagi sebagian orang dengan aktivitas fisik tinggi atau kondisi medis tertentu, tubuh tetap memerlukan karbohidrat kompleks dalam jumlah terukur.

Ahli gizi IPB sendiri menekankan pentingnya prinsip gizi seimbang melalui konsep “Isi Piringku”: setengah piring diisi sayur dan buah, setengah lainnya terdiri dari makanan pokok dan lauk pauk. Artinya, keseimbangan tetap menjadi kunci.

Bagi yang ingin mencoba, pendekatan paling aman adalah:

- Mengurangi karbohidrat sederhana terlebih dahulu.
- Memperbanyak protein (telur, ayam tanpa kulit, ikan, tahu, tempe).
- Menambah serat dari sayur dan buah.
- Memastikan hidrasi cukup.
- Mengamati respons tubuh selama beberapa hari.

Jika tubuh terasa sangat lemas, pusing, atau tidak bertenaga, sebaiknya evaluasi kembali pola makan tersebut.

Terkini

Terpopuler