Jadi Tersangka, Ibu Brigadil IDR Tak Ditahan Polisi

Jadi Tersangka, Ibu Brigadil IDR Tak Ditahan Polisi
Ilustrasi Tersangka (Net)

Riauaktual.com - Tersangka YUL masih menghirup udara bebas. Pasalnya, ibunda dari Brigadir IDR tidak ditahan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau. Dinilai koorperatif dan kemanusiaan jadi alasan penyidik.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto menyampaikan, pihaknya telah menetapkan dua tersangka dugaan pengeroyokan terhadap Riri Aprilia Kartin. Penetapan tersangka itu merupakan hasil gelar perkara dilakukan penyidik.

“Kami telah menetapkan IDR dan ibunya YUL sudah ditetapkan sebagai tersangka,” Sunarto, Senin (26/9).

Dalam penanganan perkara ini, penyidik diketahui sudah memeriksa sejumlah saksi baik dari saksi korban maupun terlapor. Selain itu, penyidik juga sudah menemukan adanya peristiwa tindak pidana serta alat bukti permulaan cukup.

“Tersangka disangkakan dengan pasal 170 KUHP, ancaman hukumannya lebih dari 5 tahun,” kata pria akrab disapa Narto.

Terhadap tersangka Brigadir IDR kata Narto, pihaknya telah melakukan penahanan kepada yang bersangkutan. Oknum Polwan itu ditempatkan di tempat khusus oleh Bidpropam Polda Riau perihal pelanggaran kode etik.

Sedangkan, YUL tidak ditahan penyidik dengan alasan dinilai koorpertif, tidak akan mengulangi perbuatannya, tidak akan merusak barang bukti serta alasan kemanusiaan. Yang mana, YUL harus merawat anak dari IDR.

“Tersangka YUL tidak ditahan penyidik,” pungkas Narto.

Penanganan perkara ini berawal dari laporan dengan nomor : STPL/B/448/IC/2022/SPKT/Riau tertanggal 22 September 2022. Laporan tersebut disampaikan Riri Aprilia Kartin (27).

Kasus dugaan penganiayaan tersebut viral di sosial media usai korban membagikan cerita di Instagramnya @ririapriliaaaaa. Dalam video berdurasi beberapa detik itu, korban menceritakan kejadian yang dialaminya.

“Saya membuat laporan atas pengeroyokan yang dilakukan oleh kakak (seorang polisi wanita) dan ibu dari pacar saya. Mereka memukul, menjambak dan menampari saya karena mereka tidak terima saya menjalin hubungan dengan adik (Polwan) dan anaknya (orangtua),” cerita korban.

Berita Lainnya

index