Tiga Saksi Serahkan Uang Puluan Juta ke Kejari Siak

Tiga Saksi Serahkan Uang Puluan Juta ke Kejari Siak

Riauaktual.com - Tiga orang saksi menyerahkan uang puluhan juta rupiah ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Siak. Uang itu merupakan pengembalian kerugian negara dalam perkara dugaan korupsi APBKam Teluk Mesjid Kecamatan Sungai Apit. 

Pada perkara ini, telah ditetapkan seorang tersangka yakni Ferly Sunarya. Ia selaku Kepala Kampung Teluk Mesjid dan telah dilakukan penahaan oleh Korps Adhyaksa. 

Perbuatan Ferly telah merugikan keuangan negara sebesar Rp231.711.537. Nominal itu berdasarkan Laporan Hasil Audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara oleh Inspektorat Kabupaten Siak Nomor : 700/IK-LHKPN/IV/2022/01 tanggal 21 April 2022 lalu.

Kasi Intelijen Kejari Siak Saldi menyampaikan, sebagian kerugian negara telah dikembalikan sejumlah pihak. Dikatakannya, penyidik telah menerima pengembalian sebesar Rp31.549.883 dari saksi berinisial S selaku Bendahara Kampung Teluk Mesjid. 

Kemudian, uang sebesar Rp2.101.819 dikembalikan oleh saksi RM selaku Kerani Kampung Teluk Mesjid, dan serta uang sejumlah Rp12.440.000 dari Saksi N selaku Juru Tulis III Kampung Teluk Mesjid.

"Pengembalian kerugian keuangan negara yang telah kami terima sejumlah Rp46.091.702," ungkap Saldi, Rabu (11/5).

Uang puluhan juta rupiah tersebut, sebut Saldi, selanjutnya dijadikan alat bukti dan langsung dilakukan penyitaan. Mengingat barang bukti tersebut tidak mungkin disimpan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara, jaksa penyidik telah menitipkan uang tersebut kepada Bendahara Penerimaan Kejari Siak untuk disimpan/dititipkan di Rekening Titipan Kejari Siak untuk kepentingan pembuktian di persidangan.

"Dengan adanya pengembalian kerugian keuangan negara oleh Perangkat Kampung Teluk Mesjid, maka sisa kerugian keuangan negara adalah sebesar Rp185.619.835," kata Saldi. 

Upaya pemulihan kerugian negara diyakini tidak berhenti sampai di situ saja. Penyidik, kata Saldi, terus mengupayakan secara persuasif kepada pihak-pihak lain yang dianggap baik langsung maupun tidak langsung dinilai sebagai pihak yang harus mengembalikan kerugian keuangan negara dalam perkara tersebut, yang nilainya masih dapat ditoleransi untuk dilakukan pengembalian.

Dari informasi yang dihimpun, perkara yang menjerat Ferly Sunarya bermula pada tahun 2020 lalu. Dimana saat itu, Kampung Teluk Mesjid memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (ABPKam) sebesar Rp2.506.586.145.

Selanjutnya, dalam pengelolaan anggaran tersebut terdapat kegiatan pengadaan barang, kegiatan rutin dan kegiatan fisik yang seluruhnya dana tersebut disimpan sendiri oleh Ferly Sunarya selaku Penghulu Kampung.

Selain itu, dalam pertanggungjawabannya, terdapat kegiatan yang tidak sesuai dengan realisasinya dan menggunakan surat pertanggungjawaban yang fiktif atau tidak sebagaimana mestinya. Yaitu, nota dengan menggunakan cap dan tandatangan penyedia yang dipalsukan, serta harga dari barang tersebut disesuaikan dengan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

Selain itu, terdapat 2 kegiatan fisik, yaitu kegiatan semenisasi Gang Ayub dan kegiatan pelebaran box culvert Jalan Abdul Jalil yang dalam pelaksanaan kedua kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri oleh Tersangka FS tanpa melibatkan pelaksana kegiatan dan tim pelaksana kegiatan, atas hal itu ditemukan adanya kelebihan bayar.

Pada tahun tersebut, terdapat kegiatan pengadaan barang yang telah dilakukan pencairan. Namun sampai akhir Desember 2020, kegiatan tersebut tidak dilaksanakan, dan justru kegiatan di tahun 2020 tersebut dilaksanakan Ferly di tahun berikutnya. Padahal seluruh kegiatan tersebut tidak termasuk dalam Silpa Kampung Teluk Mesjid tahun 2020.

Atas perbuatannya itu, Ferly dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat (1) huruf a, huruf b, dan ayat (2) Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantas Tindak Pidana Korupsi.

Berita Lainnya

View All