Abrasi Kembali Ancam Pesisir Pulau Rangsang

Abrasi Kembali Ancam Pesisir Pulau Rangsang
Abrasi yang terjadi di Pulau Rangsang terus meruntuhkan bibir tebing daratan pulau ini.

RIAU (RA)- Musim angin utara dari arah Selat Malaka akan tiba dan mengancam ketahanan sejumlah pulau di Provinsi Riau di antaranya Pulau Rangsang dan Pulau Padang di Kabupaten Kepulauan Meranti. Angin utara dengan gelobang tinggi akan berdampak sangat serius dan harus diantisipasi oleh masyarakat dan pemerintah.

Setiap tahun gugusan pulau terluar Indonesia belahan barat menjadi sasaran gelombang tinggi dari angin Utara yang mulai bergerak dari arah Selatan, detik per detik gelombang 1 hingga 2 meter silih berganti pecah di pesisir daratan Pulau Rangsang, pulau yang dihuni puluhan ribu orang, dan satwa liar serta miliar pohon alam itu kini luasnya semakin berkurang setiap tahun akibat gerusan air laut. Abrasi tinggi disebabkan juga tidak adanya pohon-pohon perisai pulau seperti bakau, api api dan sejenisnya. Pesisir Pulau Rangsang kini hanya terlihat diselimuti semak belukar dan tanaman kelapa yang sifatnya tidak kokoh akan hantaman air laut.

Berbagai aset daerah dan harta masyarakat sudah menjadi korban abrasi, hanya korban jiwa yang sampai hari ini tercatat nihil, namun kedepan antisipasi sesuatu yang tidak diinginkan harus lebih dini dilakukan agar persentase kerugian baik masyarakat dan pemerintah lebih kecil.

Kehidupan pesisir di Pulau Rangsang juga tidak terlihat ramai begitu juga dengan tingkat pembangunan kawasan pesisir dari pemerintah daerah juga terlihat minim bahkan belum terjamah sama sekali, kondisi itu jelas mengarah kepada tingkat kesejahteraan masyarakat yang tergolong di bawah standar. Mata pencaharian masyarakat setempat didominasi dua pilihan saja yakni berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Kadar, Tokoh Masyarakat Pulau Rangsang menyebutkan pulau tempat tinggalnya seakan jauh dari perhatian pemerintah. Padahal menurutnya, Pulau Rangsang salah satu pulau terluar dari Indonesia yang langsung berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura.

"Apa yang terjadi hari ini baik dari abrasi, minimnya percepatan pembangunan dan tidak tersentuhnya program pemerintah ke daerah pesisir adalah salah satu bukti pemerintah tidak memperhatikan Pulau
Rangsang. Saya kecewa dan meminta pemerintah ke depannya lebih memperdulikan daerah pesisir terutama pencegahan abrasi ini," kata Kadar.

Menurutnya lagi, tingkat abrasi yang terjadi di pesisir Rangsang masih di luar perhatian ekstra pemerintah. Tingginya abrasi per tahun mencapai 25 meter seharusnya sudah ditetapkan sebagai daerah awas abrasi dan sudah ada penanggulangan oleh pemerintah. Abrasi Rangsang hanya dapat diatasi dengan turap dari batu jeronjong karena jika dengan penanganan lain seperti penanaman mangrove tidak memungkinkan lagi untuk dapat menangkis gelombang tinggi dikarenakan struktur tanah di sepanjang peisir tidak semuanya tanah pantai namun sebagian besar sudah tanah gambut.

"Di pesisir ini tidak semuanya tanah pantai, sebagian tanah gambut sudah berada pada pesisir pantai rangsang ini, pada tanah gambut inilah tercatat abrasi paling tinggi terjadi karena daya tahan tanah gambut kurang baik dari pada tanah pantai yang mampu bertahan agak lumayan lama," ungkapnya.

Dilanjutkannya, sampai hari sudah tercatat banyak harta masyarakat yang amblas bersamaan dengan air laut, seperti rumah, lahan perkebunan, jalan jalan swadaya dan jalan dari anggaran pemerintah juga ikut hanyut namun hanya korban jiwa saja yang belum tercatat. "Kita tidak mau lagi kerugian dari segi apapun terjadi akibat dari dampak abrasi ini. Kami berharap suatu saat ini solusi pencegahan secara nyata dilakukan pemerintah agar bencana abrasi ini tidak lagi menghantui masyarakat di Rangsang," harapnya.

 

Laporan : romg

Berita Lainnya

index