Program SITT Hemat Biaya Pupuk Kebun Sawit 25 Persen

Program SITT Hemat Biaya Pupuk Kebun Sawit 25 Persen
(Ilustrasi int)

RIAU (RA)- Program Sistem Integrasi Ternak-Tanaman (SITT) yang saat ini sudah di percontohkan Dinas Pertanian Riau bersama Bank Indonesia (BI) wilayah Riau di Kabupaten Siak di harapkan dapat menghemat biaya pupuk kimia kebun sawit rakyat hingga 25 persen.

Peneliti Ekonomi Madya Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau Abdul Majid, saat kunjungan bersama rombongan BI Pusat dan wartawan pekan kemaren menyatakan, sistem integrasi ternak-tanaman (sitt) adalah program memadukan pertanian sawit dengan pemeliharaan penggemukan sapi yang menimbulkan simbiosis mutualisme.

Derngan beternak sapi diantara tanaman sawit petani akan mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih lagi. Petani bisa memanfaatkan pelepah kelapa sawit sebagai pakan ternaknya. Sementara limbah sapi berupa urin dan kotoran sapi bisa berguna bagi pupuk tanaman sawit. Upaya ini juga untuk menciptakan sistem pendapatan yang bervariasi bagi petani kebun sawit.

"Dengan beternak pakan tersedia dari pelepah sawit. Demikian juga pupuk kompos yang di dapat dari limbah cair berupa urine sapi dan kotoran sapi bisa di jual.Dengan ini petani bisa terjaga pendapatannya mana kala ada penurunan harga sawit," ujarnya.

Kata Majid, BI juga sudah sejak lama memfasilitasi petani di Siak dengan dunia perbankan untuk mendapatkan bantuan berupa peralatan pemotong pakan ternak. Alat pengolah pupuk kompos serta sapi.

"Kita berharap bimtek yang sudah di lakukan selama ini membuat petani sekaligus peternak lebih mahir lagi mengelola SITT," imbuhnya.

Kepala Dinas Provinsi Riau, Patrianov yang juga turut serta menjelaskan saat ini pihaknya sudah terjun langsung membina petani sekaligus mengusulkan bantuan sapi ke pusat.

"Siak salah satu model integrasi ternak-tanaman tahun 2011. Integrasi adalah apa yang sapi buat untuk tanaman, maka ternyata bisa di hasilkan pupuk organik yang bisa menghasilkan pendapatan sampingan buat petani," ujarnya.

Katanya, dengan pelepah sawit sebagai pakan ada Tambahan nilai yang di dapat dari penggemukan 0,6 kilo perbulan. Selain juga akan di dapat Rp 15 ribu pupuk organik sehari serta pupuk cair hasil permentasi urin Rp 36 ribu dari 1 ekor sapi.

"Bayangkan 4 hari 4 malam 1.000 liter urin di hasilkan per ekor sapi. Ini bisa di jual seharga Rp1.000 perliter harga sebelum di permentasi.Sementara untuk kotorannya satu ekor sapi bisa menghasilkan 6 kilo kotoran selama 24 jam.Kalau per liter urin siap pupuk kini di hargai Rp 10 ribu perliter. Sapi adalah kandang pupuk di pedesaan," ujarnya.

Apalagi di Riau ada 2, 1 juta hektare lahan sawit dimana perhektarenya ada 130 pohon. Dalam satu pohon ada 24 pelepah yang akan terbuang selama sebulan. Kalau itu ini bisa di gunakan untuk pakan ternak berapa ratus ribu ternak bisa hidup di sana.

Sementara satu ekor sapi perharinya butuh 2,5 pelepah. Katanya, Ini bisa menekan biaya pupuk 25 persen pada saat penggunaan pupuk organik.

"Sasaran kita adalah 1,1 juta petani mandiri milik rakyat di Riau. Selain Secara makro ini bisa menjaga ekonomi petani saat proses replanting dilakukan," tandasnya.

Sujarno Ketua kelompok tani Duku, Simpang Perak, menyatakan kini ia sedang membesarkan 26 ekor sapi bantuan APBN. Rata-rata sapi betina,karena akan di jadikan induk .

"Kita berharap akan dapat bantuan yang lebih banyak lagi dari pemerintah maupun perbankan," harapnya.(RA5)

Berita Lainnya

index