Pencarian

Podcast Kelupas

Erizal Nilai Jokowi Mulai Ragu Soal Peluang Gibran Dua Periode

Ahad, 11 Oktober 2026 • 06:28:18 WIB
Erizal Nilai Jokowi Mulai Ragu Soal Peluang Gibran Dua Periode
Presiden Prabowo Subianto-Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Istimewa)

JAKARTA (RA) - Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mulai meragukan peluang putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk kembali mendampingi Prabowo Subianto pada periode kedua pemerintahan.

Penilaian itu muncul setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan permohonan sengketa terkait syarat pendidikan Gibran tidak dapat diterima. Menurut Erizal, putusan MK Nomor 1/2026 turut menjadi sorotan karena MK disebut tidak menemukan bukti meyakinkan terkait kepemilikan ijazah SMA atau sederajat.

Erizal menyampaikan pandangannya pada Minggu (11/10/2026). Ia menilai sikap Jokowi saat ditanya wartawan mengenai peluang Prabowo-Gibran dua periode berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

"Jawaban Jokowi adalah raut wajahnya yang tak lagi penuh senyum seperti dulu," kata Erizal sebagaimana dikutip dari Rmol.id.

Menurut Erizal, Jokowi keliru membaca sosok Prabowo. Ia menilai sikap Prabowo ketika menjadi bawahan Jokowi berbeda dengan posisinya sekarang sebagai Presiden.

"Dua posisi itu pernah dialami Prabowo pada saat yang bersamaan. Sementara Jokowi tidak. Jokowi merasa Prabowo adalah anak buahnya selamanya, kendati ia bukan lagi Presiden," ujarnya.

Erizal mengatakan, ketika Jokowi masih menjabat Presiden, Prabowo dinilai menunjukkan kepatuhan dan menghormati posisinya. Namun, menurutnya, keadaan berubah setelah Prabowo menjadi Presiden dan Jokowi tidak lagi memegang jabatan tersebut.

"Itu bukti kepatuhan, etika, sopan santun, seorang Prabowo," kata Erizal.

Ia menilai Prabowo memiliki cita-cita, keinginan, dan ideologi sendiri yang belum tentu sejalan dengan Jokowi, meskipun keduanya mengusung tema keberlanjutan pemerintahan.

"Prabowo itu tidak kosong. Ia punya cita-cita, punya keinginan, ideologi, yang bisa jadi justru berbeda jauh dengan Jokowi, kendati tema awalnya adalah keberlanjutan," ujarnya.

Karena itu, Erizal berpandangan Jokowi seharusnya sejak awal menyesuaikan diri dengan arah politik Prabowo, bukan sebaliknya. Ia juga mengkritik anggapan sejumlah loyalis Jokowi yang menyebut Prabowo tidak akan menjadi Presiden tanpa dukungan Jokowi.

"Apalagi terus mematut-matut diri seperti dikatakan loyalisnya, bahwa Prabowo tak ada apa-apanya, tanpa Jokowi. Prabowo menjadi Presiden karena Jokowi," tutup Erizal.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks