Konsumsi dan Ekspor Naik, Stok Minyak Sawit Indonesia Turun Jadi 2,21 Juta Ton

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:41:46 WIB
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

JAKARTA (RA) – Stok minyak sawit Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,21 juta ton, turun dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 2,75 juta ton. Stok tersebut juga lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 2,54 juta ton.

Penurunan stok terjadi di tengah meningkatnya konsumsi dalam negeri dan ekspor produk sawit. Sementara itu, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) mengalami penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menjelaskan, produksi CPO pada Agustus 2026 mencapai 4,880 juta ton, turun 0,50 persen dibandingkan Juli yang sebesar 4,904 juta ton.

"Produksi PKO juga turun menjadi 464 ribu ton dari 466 ribu ton pada Juli. Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Agustus mencapai 5,343 juta ton, turun 0,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,370 juta ton," jelas Eddy dalam keterangan resminya yang diterima riauaktual.com, Selasa (13/10/2026).

Meski produksi bulanan melemah, secara kumulatif produksi CPO dan PKO selama Januari-Agustus 2026 mencapai 40,997 juta ton. Angka tersebut meningkat 5,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 39,037 juta ton.

Di sisi konsumsi, penggunaan produk sawit dalam negeri pada Agustus 2026 mencapai 2,304 juta ton, naik 1,28 persen dibandingkan Juli sebesar 2,275 juta ton.

"Kenaikan terutama didorong sektor biodiesel yang menyerap 1,350 juta ton, meningkat 5,03 persen dari 1,285 juta ton pada bulan sebelumnya," tambahnya.

Sebaliknya, konsumsi untuk pangan turun 3,79 persen menjadi 775 ribu ton dari 805 ribu ton. Konsumsi oleokimia juga menurun 2,70 persen menjadi 180 ribu ton dari 185 ribu ton.

Secara kumulatif, konsumsi dalam negeri selama Januari-Agustus 2026 mencapai 17,523 juta ton atau meningkat 6,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 16,406 juta ton.

Lebih lanjut, Eddy mengatakan, peningkatan juga terjadi pada ekspor produk sawit. Sepanjang Agustus 2026, total ekspor mencapai 3,588 juta ton, naik 12,56 persen dibandingkan Juli yang sebesar 3,188 juta ton.

"Kenaikan ekspor terjadi pada sejumlah produk, di antaranya olahan minyak sawit yang meningkat 15,12 persen menjadi 2,643 juta ton dan CPO yang naik 31,83 persen menjadi 329 ribu ton," ujarnya.

Ekspor olahan minyak inti sawit juga meningkat 14,58 persen menjadi 113 ribu ton. Sementara itu, ekspor oleokimia turun 6,74 persen menjadi 501 ribu ton dan ekspor CPKO turun 62,54 persen menjadi sekitar 3 ribu ton.

Secara kumulatif, ekspor produk sawit Indonesia selama Januari-Agustus 2026 mencapai 23,370 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 2,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 22,696 juta ton.

Dari sisi nilai, lanjutnya, ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai US$4,29 miliar, naik 12,62 persen dibandingkan Juli sebesar US$3,81 miliar.

"Adapun nilai ekspor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai US$27,55 miliar, meningkat 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$24,78 miliar," terangnya. 

GAPKI mencatat peningkatan nilai ekspor tersebut antara lain didorong harga yang relatif lebih baik pada 2026. Rata-rata harga ekspor CPO selama Januari-Agustus 2026 mencapai US$1.140 per ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1.075 per ton.

Namun, secara bulanan, rata-rata harga ekspor CPO pada Agustus tercatat US$1.164 per ton, sedikit lebih rendah dibandingkan Juli sebesar US$1.168 per ton.

Berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor pada Agustus 2026 dibandingkan Juli antara lain terjadi ke Pakistan sebesar 265 ribu ton atau naik 113 persen, India 89 ribu ton atau naik 27 persen, Rusia 77 ribu ton atau naik 250 persen, Bangladesh 66 ribu ton atau naik 48 persen, serta Malaysia 38 ribu ton atau naik 26 persen.

Sebaliknya, ekspor ke Uni Eropa (EU-27) turun 44 persen menjadi 160 ribu ton. Ekspor ke Amerika Serikat turun 14 persen menjadi 36 ribu ton, China turun 3 persen menjadi 19 ribu ton, dan Afrika turun 3 persen menjadi 13 ribu ton.

Jika dibandingkan secara kumulatif selama Januari-Agustus 2026 dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor ke China meningkat 24,7 persen, Rusia 11,5 persen, Malaysia 7,8 persen, Bangladesh 6,2 persen, dan Afrika 3,8 persen.

Sementara itu, ekspor ke India turun 20,2 persen, Amerika Serikat 3,9 persen, Pakistan 1,7 persen, dan Uni Eropa 0,4 persen.

Penurunan stok minyak sawit pada Agustus menjadi 2,21 juta ton menunjukkan berkurangnya persediaan dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut terjadi ketika konsumsi dalam negeri dan ekspor sama-sama meningkat.

Tags

Terkini

Terpopuler