Ketika Pohon, Tanah, dan Sungai Menjadi Guru Biologi Menyemai Pedagogi Hijau di Sekolah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:27:00 WIB
Foto: Lingkungan Sekolah SMA NEGERI 1 Siempat Nempu

RIAU (RA) - Banyak sekolah memiliki tiga guru biologi yang tidak pernah absen dan tidak pernah digaji: pohon di halaman, tanah di kebun, dan parit di belakang gedung.

Sayangnya, ketiganya jarang mendapat jam mengajar. Padahal, ekosistem, keanekaragaman hayati, penguraian, hingga pencemaran dapat dipelajari langsung dari lingkungan sekitar sekolah.

Melalui pedagogi hijau (green pedagogy), lingkungan tidak sekadar menjadi objek pembelajaran, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengamati, meneliti, dan memahami persoalan nyata. 

Pendekatan ini membuka peluang agar pelajaran biologi tidak berhenti pada teori, tetapi terhubung dengan kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Pedagogi Hijau?

Pedagogi hijau bukan sekadar kegiatan belajar di luar kelas. Kralicek (2014) menjelaskan pendekatan ini dalam konteks pendidikan agraria dan lingkungan di Austria, dengan menekankan pengalaman belajar yang membantu siswa memahami persoalan ekonomi, ekologi, dan sosial serta merumuskan solusi.

Prinsipnya, siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Lingkungan menjadi ruang, konteks, sekaligus sumber pengalaman belajar.

Pedagogi hijau berkaitan erat dengan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama. 

Pedagogi hijau merupakan pendekatan pembelajaran yang secara khusus memanfaatkan persoalan lingkungan dan keberlanjutan sebagai bagian dari proses belajar.

Bagi sekolah, pendekatan ini dapat dimulai dari hal sederhana: menjadikan lingkungan yang sudah tersedia sebagai laboratorium belajar.

Pelajaran dari Pohon: Satu Pohon, Satu Ekosistem

Satu pohon di halaman sekolah dapat menjadi sumber pembelajaran tentang fotosintesis, ekosistem, interaksi antarorganisme, dan mikrohabitat, seperti kulit batang, bagian bawah daun, serta tanah di sekitar akar.

Daun menyerap karbon dioksida untuk fotosintesis dan menghasilkan oksigen. Sementara itu, tajuk pohon memberikan keteduhan dan menciptakan kondisi lingkungan yang berbeda dari area terbuka.

Guru dapat mengubahnya menjadi kegiatan ilmiah sederhana. Siswa diminta mencatat jenis makhluk hidup yang ditemukan pada batang, daun, dan tanah di sekitar pohon selama 15 menit. 

Hasil pengamatan kemudian dibandingkan untuk melihat perbedaan organisme yang ditemukan pada setiap bagian.

Siswa juga dapat mengukur suhu di bawah tajuk dan di tempat terbuka menggunakan termometer, lalu mendiskusikan penyebab perbedaannya.

Dari satu pohon, siswa belajar tentang keanekaragaman hayati, hubungan antarorganisme, dan fungsi pohon dalam ekosistem.

Pelajaran dari Tanah: Dunia yang Tidak Terlihat

Tanah tampak diam, tetapi di dalamnya berlangsung berbagai proses biologis. Cacing, jamur, dan bakteri berperan dalam menguraikan bahan organik, seperti daun kering dan sisa makanan.

Proses penguraian membantu mengembalikan unsur hara ke dalam tanah agar dapat dimanfaatkan tanaman. Sebagian bahan organik juga membentuk humus yang berperan memperbaiki struktur dan kemampuan tanah menahan air.

Proses tersebut dapat dipelajari melalui kegiatan pengomposan di sekolah.

Siswa mengumpulkan sampah organik dari kantin dan halaman, kemudian mengamati perubahan warna, tekstur, bau, suhu, dan volume bahan setiap minggu.

Mereka juga dapat membandingkan dua tumpukan kompos dengan perlakuan berbeda, misalnya tumpukan yang rutin diaduk dan yang jarang diaduk. Hasilnya menjadi bahan diskusi untuk memahami pengaruh ketersediaan oksigen terhadap proses penguraian.

Melalui kegiatan ini, siswa memahami peran organisme pengurai sekaligus melihat bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman sekolah.

Pelajaran dari Sungai: Hewan Kecil sebagai Petunjuk Kualitas Air

Kualitas air tidak hanya dapat dinilai dari warna dan baunya. Salah satu cara mempelajari kondisi ekosistem perairan adalah dengan mengamati makroinvertebrata, yaitu hewan tanpa tulang belakang yang dapat dilihat tanpa mikroskop dan hidup di dasar perairan.

Kelompok organisme ini memiliki tingkat toleransi berbeda terhadap perubahan kondisi lingkungan. Karena itu, kualitas air dapat dipelajari melalui komposisi jenis, kelimpahan, serta perbandingan kelompok yang sensitif dan toleran terhadap pencemaran.

Pengukuran suhu, pH, dan kekeruhan air dapat melengkapi pengamatan tersebut.

Penelitian Leatemia dan rekan-rekannya (2017) di Sungai Nimbai, Manokwari, Papua Barat, memberikan contoh bagaimana organisme dasar perairan dapat digunakan untuk menilai kondisi lingkungan.

Penelitian yang mencakup tujuh stasiun dari hulu hingga hilir itu menemukan bahwa lokasi di dekat pembuangan limbah kelapa sawit didominasi cacing Oligochaeta. 

Kondisi tersebut disertai kadar oksigen terlarut dan pH yang lebih rendah dibandingkan beberapa lokasi lainnya. 

Sementara itu, empat stasiun di bagian hulu memiliki kualitas air yang tergolong baik hingga sangat baik berdasarkan indeks biotik yang digunakan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa komposisi organisme dapat memberikan petunjuk tentang kondisi ekosistem perairan.

Di sekolah, siswa dapat melakukan pengamatan sederhana dengan mengenali organisme yang ditemukan di perairan yang aman, kemudian membandingkan hasilnya dengan data suhu dan pH.

Namun, kegiatan lapangan harus memperhatikan keselamatan dan etika. Pengamatan perlu didampingi guru dan mendapat izin sekolah. 

Siswa harus menggunakan perlengkapan pelindung yang sesuai, tidak memasuki perairan dalam atau berarus, serta mencuci tangan setelah kegiatan.

Perairan yang diduga tercemar berat, berbau menyengat, berminyak, atau menerima pembuangan limbah secara langsung harus dihindari. Organisme juga tidak boleh diambil berlebihan atau dipindahkan sembarangan.

Dengan demikian, siswa bukan hanya belajar biologi, tetapi juga memahami bahwa penelitian ilmiah harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Tantangan yang Perlu Dijawab

Tantangan pertama ada pada kesiapan guru. Tidak semua guru terbiasa menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Pendidikan lingkungan masih sering diwujudkan melalui kerja bakti atau kegiatan menanam pohon sesekali, belum sepenuhnya terintegrasi dalam pembelajaran.

Karena itu, guru membutuhkan dukungan berupa pelatihan, panduan kegiatan, waktu, dan sarana yang memadai.

Tantangan berikutnya adalah materi pelajaran yang padat, fasilitas yang belum merata, serta kebiasaan sekolah yang belum selalu sejalan dengan materi yang diajarkan.

Siswa dapat mempelajari bahaya sampah plastik, tetapi kantin masih menggunakan kemasan sekali pakai. Mereka belajar tentang pencemaran air, tetapi belum tentu dilibatkan dalam mengamati kondisi saluran air di sekitar sekolah.

Penilaian pun kerap berfokus pada penguasaan materi, sementara kemampuan mengamati, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari belum selalu mendapat perhatian yang seimbang.

Padahal, pedagogi hijau dapat dimulai melalui kegiatan kecil dan terukur, seperti:

Satu pengamatan lingkungan setiap minggu.

Satu pohon sebagai objek pengamatan selama satu semester.

Satu sudut sekolah sebagai kebun mini atau area tanaman dalam pot.

Satu kegiatan pengomposan sebagai proyek kelas.

Satu pengamatan kualitas air sederhana setiap semester, jika tersedia lokasi yang aman.

Hasil pembelajaran dapat dinilai melalui laporan pengamatan, jurnal proyek, diskusi, dan presentasi siswa.

Peluang yang Terbuka

Dari sisi kebijakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2025 menjelaskan bahwa Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 bukan merupakan kurikulum baru. Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 tetap dapat digunakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebijakan tersebut juga menguatkan pendekatan pembelajaran mendalam yang mendorong siswa memahami materi secara utuh, menghubungkan antarkonsep, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks berbeda.

Pendekatan pembelajaran mendalam memiliki titik temu dengan pedagogi hijau karena keduanya mendorong pembelajaran yang bermakna dan berkaitan dengan kehidupan nyata. Namun, keduanya tidak identik. 

Pembelajaran mendalam dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran, sedangkan pedagogi hijau secara khusus menempatkan lingkungan dan keberlanjutan sebagai konteks penting pembelajaran.

Sekolah juga dapat membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Bank sampah dapat membantu pembelajaran pengelolaan sampah, kelompok tani menjadi mitra untuk memahami tanah dan pertanian, komunitas lingkungan mendukung kegiatan konservasi, sedangkan perguruan tinggi dapat mendampingi pengamatan keanekaragaman hayati.

Kolaborasi tersebut memungkinkan sekolah mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan tanpa harus menyediakan seluruh fasilitas dan keahlian secara mandiri.

Dimulai Minggu Ini

Guru dapat memulai pedagogi hijau melalui lima langkah sederhana.

Pertama, pilih satu topik biologi yang sedang diajarkan, lalu hubungkan dengan objek di lingkungan sekolah, seperti pohon, tanah, atau air.

Kedua, amati objek tersebut bersama siswa dan susun pertanyaan yang ingin dijawab.

Ketiga, catat hasil pengamatan, baik berupa jenis organisme, suhu, perubahan kompos, maupun kondisi air.

Keempat, diskusikan arti data yang diperoleh, kemungkinan penyebabnya, dan hubungannya dengan konsep biologi.

Kelima, tindak lanjuti hasil pembelajaran melalui aksi sederhana, seperti merawat tanaman, mengurangi sampah, atau memperbaiki kebiasaan di kantin.

Langkah-langkah tersebut tidak membutuhkan perubahan besar. Yang terpenting adalah konsistensi dalam menjadikan lingkungan sebagai bagian dari proses belajar.

Membuka Pintu Kelas bagi Lingkungan

Tujuan belajar biologi bukan semata-mata memperoleh nilai yang baik, tetapi juga memahami kehidupan dan membangun tanggung jawab terhadap lingkungan.

Pohon di halaman sekolah, tanah di kebun, dan air di saluran sekitar dapat membantu siswa memahami konsep yang selama ini hanya mereka baca di buku. 

Mereka dapat mengamati, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, dan menyusun kesimpulan berdasarkan pengalaman nyata.

Pengalaman tersebut membantu menghubungkan pengetahuan dengan tindakan. Siswa tidak hanya mengetahui pentingnya keanekaragaman hayati, tetapi juga belajar mengamati dan menjaganya. 

Mereka tidak hanya memahami proses penguraian, tetapi juga dapat mempraktikkan pengolahan sampah organik.

Pada akhirnya, pedagogi hijau tidak selalu membutuhkan laboratorium mahal atau perjalanan jauh. Lingkungan sekolah sendiri dapat menyediakan banyak kesempatan untuk belajar, selama guru mampu merancang kegiatan yang tepat, aman, dan bermakna.

Pohon, tanah, dan sungai telah menyediakan pelajarannya. Kini, sekolah perlu memberi ruang agar siswa dapat mempelajarinya secara langsung.

Penulis: Octavia Sarmawati Sihite. Mahasiswi Pendidikan Biologi Universitas Riau

Tags

Terkini

Terpopuler