RIAU (RA) - Setiap musim kemarau, langit Riau kembali kelabu. Sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran dari rumah, sementara jarak pandang di jalan raya menurun akibat kabut asap.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, luas lahan terbakar di Riau tercatat mencapai 1.792,52 hektare. Sebanyak 96,23 persen di antaranya merupakan lahan gambut.
Di balik bencana yang berulang ini, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan. Sudah cukupkah sekolah mengajarkan generasi muda cara merawat lingkungan tempat mereka tinggal?
Jawabannya mungkin tidak selalu ditemukan di dalam buku pelajaran. Bisa jadi, jawabannya justru ada di halaman sekolah, kebun belakang, tanah gambut, dan sungai yang mengalir di sekitar mereka.
Bukan Pelajaran Baru, Melainkan Cara Baru Mengajar
Pedagogi hijau (green pedagogy) merupakan pendekatan pembelajaran yang menjadikan lingkungan sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Lingkungan tidak hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengamati, mengalami, menganalisis, dan mencari solusi atas persoalan nyata.
Kralicek (2014) menjelaskan pendekatan ini dalam konteks pendidikan yang menghubungkan persoalan ekonomi, ekologi, dan sosial melalui pengalaman belajar yang konstruktif dan berorientasi pada solusi.
Prinsipnya sederhana, siswa tidak cukup hanya mengetahui persoalan lingkungan. Mereka perlu terlibat dalam memahami penyebab dan menemukan cara mengatasinya.
Bagi Riau, pendekatan ini bukan sekadar gagasan akademik. Dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan, kerusakan gambut, serta pencemaran sungai yang terus menjadi perhatian, pedagogi hijau dapat menjadi salah satu pendekatan penting untuk memperkuat pendidikan lingkungan sejak dini.
Guru Bernama Gambut: Mengapa Kanal Kering Berbahaya?
Lahan gambut merupakan ekosistem penting di Riau yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Ketika gambut dikeringkan melalui kanal drainase, kadar airnya menurun dan risiko kebakaran meningkat. Api yang menjalar di lapisan gambut juga dapat sulit dipadamkan karena membakar material organik di bawah permukaan tanah.
Persoalan ini dapat menjadi bahan pembelajaran langsung bagi siswa.
Melalui pengamatan sederhana, siswa dapat membandingkan kemampuan gambut basah dan gambut kering dalam menyerap serta menahan air. Mereka juga dapat mempelajari porositas tanah, kadar air, dan hubungan antara kondisi lahan dengan risiko kebakaran.
Pengamatan tersebut kemudian dikaitkan dengan fungsi kanal drainase dan pentingnya menjaga kelembapan gambut.
Siswa juga dapat menganalisis data kebakaran, peta tutupan lahan, serta perubahan penggunaan lahan untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Dengan cara ini, siswa tidak sekadar menghafal konsep ekosistem. Mereka belajar melihat hubungan antara tindakan manusia, kondisi lingkungan, dan dampak yang dirasakan masyarakat.
Kabut asap yang mengganggu aktivitas sekolah pun dapat menjadi pengingat nyata bahwa persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
Sungai sebagai Laboratorium Hidup
Riau memiliki sungai besar seperti Siak, Kampar, dan Indragiri yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Sungai bukan hanya sumber air dan jalur aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang belajar untuk memahami keseimbangan ekosistem.
Salah satu cara mempelajari kualitas air adalah dengan mengamati makroinvertebrata, yaitu hewan kecil tanpa tulang belakang yang hidup di perairan.
Kelompok organisme ini memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap perubahan kondisi lingkungan. Karena itu, komposisi dan kelimpahannya dapat membantu menggambarkan kondisi ekosistem perairan.
Penelitian Leatemia dan rekan-rekannya (2017) di Sungai Nimbai, Papua Barat, menunjukkan perbedaan komunitas organisme antara lokasi yang terpengaruh pembuangan limbah dan bagian hulu sungai.
Pendekatan serupa dapat dikembangkan sebagai pembelajaran di sekolah-sekolah Riau. Siswa dapat mengamati kondisi sungai atau parit yang aman dijangkau, mencatat karakteristik air, serta mempelajari parameter sederhana seperti suhu dan pH.
Jika memungkinkan, pengamatan organisme air dapat dilakukan dengan pendampingan guru dan bantuan tenaga ahli. Kegiatan harus memperhatikan keselamatan, izin, serta perlindungan organisme dan habitatnya.
Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa kondisi air tidak hanya dinilai dari warna atau baunya. Kesehatan ekosistem juga dapat dipahami melalui organisme yang hidup di dalamnya dan data lingkungan yang dikumpulkan secara sistematis.
Sampah Kantin yang Menjadi Pelajaran
Persoalan lingkungan tidak selalu harus dipelajari jauh dari sekolah. Sampah kantin pun dapat menjadi laboratorium pembelajaran.
Sebuah program pengabdian kepada masyarakat di SMPN 10 Pekanbaru oleh tim Universitas Islam Riau dilaporkan mengintegrasikan pembuatan kompos metode Takakura ke dalam pembelajaran. Program tersebut melibatkan 25 siswa dan empat guru IPA.
Dalam laporan program itu, nilai rata-rata siswa meningkat dan indikator kepedulian lingkungan mencapai 88 persen. Temuan tersebut menjadi contoh potensi pembelajaran berbasis praktik, meskipun hasilnya perlu dipahami sesuai metode evaluasi dan konteks program yang dilakukan.
Sekolah lain dapat mengembangkan kegiatan serupa dengan memanfaatkan sampah organik dari kantin dan halaman sekolah.
Siswa dapat mengamati perubahan warna, tekstur, bau, suhu, dan volume bahan selama proses pengomposan. Mereka juga dapat membandingkan perlakuan berbeda untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi proses penguraian.
Melalui kegiatan ini, siswa mempelajari peran mikroorganisme, perubahan bahan organik, dan manfaat kompos bagi tanah.
Lebih jauh, mereka memahami bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian sampah dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Tantangan yang Perlu Dijawab
Penerapan pedagogi hijau tentu tidak lepas dari tantangan.
Pertama, kesiapan guru. Tidak semua guru terbiasa menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Pendidikan lingkungan masih kerap diwujudkan melalui kerja bakti atau kegiatan menanam pohon sesekali, belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses pembelajaran.
Karena itu, guru membutuhkan dukungan berupa pelatihan, panduan kegiatan, waktu, dan sarana yang memadai.
Kedua, kesenjangan antara materi pelajaran dan kebiasaan di sekolah. Siswa dapat mempelajari bahaya plastik sekali pakai, tetapi tetap menjumpai penggunaan kemasan tersebut setiap hari di kantin.
Pengetahuan yang disampaikan di kelas perlu sejalan dengan praktik di lingkungan sekolah. Penilaian juga dapat diperluas melalui laporan pengamatan, jurnal proyek, presentasi, dan evaluasi tindakan nyata siswa.
Ketiga, keterbatasan akibat kondisi lingkungan. Kabut asap pada musim kemarau dapat membatasi kegiatan di luar ruangan dan mengharuskan sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti pembelajaran lingkungan harus berhenti. Siswa tetap dapat menganalisis data kualitas udara, membaca peta sebaran titik panas, mempelajari sumber pencemaran, dan mendiskusikan dampaknya terhadap kesehatan.
Ketika kondisi udara tidak aman, pembelajaran lapangan harus ditunda. Keselamatan siswa tetap menjadi prioritas, sementara kegiatan pengamatan dapat dialihkan ke data, foto, peta, dan sumber informasi yang tepercaya.
Dengan demikian, persoalan lingkungan tetap dapat menjadi bahan belajar tanpa menempatkan siswa dalam risiko.
Peluang Kolaborasi di Riau
Pengembangan pedagogi hijau tidak harus dimulai dari program besar. Berbagai inisiatif lingkungan yang telah berjalan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pembelajaran berbasis pengalaman.
Program Green Policing yang dijalankan Polda Riau, misalnya, dapat menjadi salah satu ruang kolaborasi dalam edukasi lingkungan di sekolah. Kegiatan seperti Police Goes to School yang melibatkan pembagian bibit dan penanaman pohon dapat dikembangkan lebih jauh melalui pemantauan pertumbuhan tanaman, pengamatan keanekaragaman hayati, dan diskusi mengenai fungsi pohon bagi ekosistem.
Perguruan tinggi juga memiliki peran strategis. Pengembangan kawasan hijau sebagai ruang edukasi, kegiatan penelitian mahasiswa, dan program pengabdian masyarakat dapat membuka kesempatan bagi sekolah untuk belajar langsung dari lingkungan.
Sekolah pun tidak perlu bekerja sendiri. Bank sampah dapat menjadi mitra pembelajaran pengelolaan sampah, kelompok tani membantu siswa memahami tanah dan pertanian, komunitas lingkungan mendukung konservasi, sementara perguruan tinggi dapat mendampingi kegiatan pengamatan dan penelitian sederhana.
Kolaborasi tersebut membuat pendidikan lingkungan lebih dekat dengan persoalan nyata sekaligus menghubungkan sekolah dengan masyarakat.
Lima Langkah Sederhana untuk Satu Semester
Pedagogi hijau tidak menuntut perubahan besar dalam waktu singkat. Sekolah dapat memulainya melalui kegiatan sederhana yang terukur.
Pertama, pilih satu objek lingkungan. Guru dapat menggunakan pohon di halaman, tanah di kebun, sampah kantin, atau parit yang aman dijangkau sebagai objek pembelajaran.
Kedua, lakukan pengamatan. Siswa mengamati objek sesuai materi pelajaran dan menyusun pertanyaan yang ingin dijawab.
Ketiga, kumpulkan data. Data dapat berupa jumlah sampah, pertumbuhan tanaman, perubahan kompos, suhu, atau kondisi air.
Keempat, analisis hasil pengamatan. Siswa mendiskusikan temuan, mencari kemungkinan penyebab, dan menghubungkannya dengan konsep yang dipelajari.
Kelima, lakukan tindak lanjut. Hasil pembelajaran digunakan untuk merancang aksi sederhana, seperti mengurangi sampah kantin, merawat tanaman, atau memperbaiki kebiasaan penggunaan air.
Satu pohon dapat menjadi objek pengamatan sepanjang semester. Satu sudut sekolah bisa dikembangkan menjadi kebun mini. Satu kegiatan pengomposan dapat menjadi proyek lintas mata pelajaran.
Penilaian tidak hanya berfokus pada jawaban ujian, tetapi juga proses pengamatan, ketepatan data, kemampuan menganalisis, kerja sama, dan kualitas solusi yang diajukan siswa.
Dengan langkah bertahap, lingkungan dapat menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari tanpa harus membebani sekolah dengan program yang rumit.
Menutup Pintu Kelas, Membuka Pintu Lingkungan
Tujuan pendidikan bukan semata-mata menghasilkan nilai yang baik di atas kertas. Pendidikan juga perlu membentuk manusia yang mampu memahami lingkungan dan bertanggung jawab terhadap tempat hidupnya.
Bagi Riau, yang menghadapi persoalan kebakaran gambut, kabut asap, dan tekanan terhadap ekosistem sungai, pedagogi hijau menawarkan peluang untuk mendekatkan pembelajaran dengan kenyataan.
Ketika tanah gambut menjadi bahan pengamatan, siswa dapat memahami pentingnya menjaga kelembapan lahan. Ketika sungai dipelajari sebagai ekosistem, mereka dapat melihat hubungan antara kualitas air dan kehidupan organisme.
Ketika sampah organik diolah menjadi kompos, mereka belajar bahwa perubahan kebiasaan dapat menghadirkan manfaat nyata.
Pengalaman seperti inilah yang dapat membantu menjembatani pengetahuan dan tindakan.
Gambut, sungai, pepohonan, dan lingkungan sekolah sesungguhnya menyediakan ruang belajar yang luas. Tugas pendidikan adalah membantu siswa membaca pelajaran yang ada di dalamnya.
Sebab, merawat lingkungan tidak cukup diajarkan sebagai teori. Kepedulian perlu tumbuh melalui pengalaman, pemahaman, dan kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi siswa di Riau, gambut bukan hanya bentang alam yang harus dijaga. Ia juga dapat menjadi guru yang mengajarkan hubungan antara manusia dan alam.
Lingkungan Riau telah menyediakan ruang kelasnya. Kini, sekolah perlu membuka pintunya.
Penulis: Cristin Anggraini Saragih, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau.