RIAU (RA) - Di sekolah, tempat sampah organik dan anorganik bukan lagi hal asing. Kegiatan memilah sampah bahkan menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian siswa terhadap lingkungan.
Namun, ada pertanyaan yang patut direnungkan, setelah siswa belajar memilah sampah, apakah mereka juga diajarkan cara menguranginya?
Pertanyaan ini relevan jika melihat aktivitas sehari-hari di sekolah. Saat jam istirahat, kantin menjadi salah satu sumber timbulan sampah. Kemasan makanan, botol minuman, tisu, hingga sisa makanan berakhir di tempat sampah hanya dalam hitungan menit.
Pendidikan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, "Sampah ini harus dibuang ke mana?" tetapi juga mendorong siswa bertanya, "Mengapa sampah ini muncul dan bagaimana cara mencegahnya?"
Ketika Sampah Berhenti di Tempat Sampah
Memilah sampah merupakan langkah penting dalam pengelolaan lingkungan. Pemerintah Kota Pekanbaru juga terus mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya, termasuk melalui pemilahan sampah rumah tangga dan pengembangan bank sampah digital.
Upaya tersebut mulai menyentuh lingkungan pendidikan. Pada Juni 2026, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru mendorong pengelolaan sampah ramah lingkungan di sekolah, salah satunya melalui program Eco-Owly di MAN 2 Pekanbaru.
Program ini mengajak peserta didik memilah dan mengumpulkan sampah nonorganik serta membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Langkah tersebut patut diapresiasi. Namun, ada tahap lain yang tidak kalah penting, yakni mengurangi sampah sebelum dihasilkan.
Sebab, memilah sampah tidak serta-merta mengurangi jumlah sampah yang kita hasilkan. Pengelolaan yang baik perlu dibarengi perubahan kebiasaan dalam menggunakan barang, membeli makanan, dan memilih kemasan.
Dari Memilah Sampah ke Memahami Penyebabnya
Bayangkan seorang siswa membeli makanan di kantin. Setelah menikmati isinya, ia membuang kemasan ke tempat sampah. Jika makanan tidak habis, sisanya ikut dibuang.
Situasi sederhana ini sebenarnya berkaitan dengan persoalan pilihan.
Mengapa makanan itu tidak habis? Apakah porsinya terlalu besar? Apakah siswa membeli makanan sesuai kebutuhan atau sekadar mengikuti kebiasaan? Apakah kemasan sekali pakai memang diperlukan?
Pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu masuk pembelajaran lingkungan yang lebih bermakna.
Siswa tidak hanya mengenali jenis sampah, tetapi juga belajar memahami hubungan antara perilaku konsumsi, pilihan sehari-hari, dan timbulan sampah.
Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak sekadar mengajarkan cara menangani sampah setelah muncul, tetapi juga mendorong siswa berpikir tentang cara mencegahnya.
Kantin Sekolah dan Persoalan Food Waste
Salah satu persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa adalah food waste atau sampah makanan.
Sisa makanan di kantin mungkin terlihat sepele. Namun, jika terjadi setiap hari dan melibatkan banyak siswa, jumlahnya dapat terus bertambah.
Sekolah dapat menjadikan persoalan ini sebagai bahan pembelajaran. Siswa, misalnya, melakukan pengamatan selama satu minggu untuk mencatat jenis makanan yang paling sering tersisa, jumlah sisa makanan, serta kemungkinan penyebabnya.
Hasil pengamatan kemudian dibahas bersama untuk mencari solusi.
Porsi makanan mungkin perlu disesuaikan. Kebiasaan membeli makanan secara berlebihan perlu dikurangi. Kantin juga dapat menyediakan pilihan porsi yang lebih beragam, sementara siswa dibiasakan mengambil makanan secukupnya.
Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar mengidentifikasi masalah, mengolah data, berdiskusi, dan merumuskan solusi.
Sampah pun tidak lagi sekadar sesuatu yang harus dibuang. Ia menjadi sumber belajar untuk memahami perilaku manusia dan dampaknya terhadap lingkungan.
Ketika Persoalan Kota Masuk ke Ruang Kelas
Berbagai persoalan lingkungan di Pekanbaru sebenarnya dapat menjadi peluang pembelajaran bagi sekolah.
Program pemilahan sampah, bank sampah digital, dan pengolahan sampah organik menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Di lingkungan pendidikan, konsep Green School juga mulai mendapat perhatian. Pada Agustus 2026, SMP Negeri 4 Pekanbaru diperkenalkan sebagai salah satu sekolah yang menerapkan konsep tersebut.
Perkembangan ini seharusnya tidak hanya mendorong sekolah menyediakan fasilitas ramah lingkungan, tetapi juga menjadikan persoalan lingkungan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Sampah di kantin, penggunaan plastik, sisa makanan, air yang terbuang, hingga kebersihan halaman sekolah merupakan persoalan nyata yang dapat diamati siswa setiap hari.
Artinya, sekolah tidak harus selalu mengajarkan lingkungan melalui gambar, video, atau buku teks. Lingkungan di sekitar mereka sudah menyediakan banyak persoalan yang dapat dipelajari secara langsung.
Pedagogi Hijau: Belajar dari Masalah Nyata
Di sinilah gagasan pedagogi hijau menjadi relevan.
Pedagogi hijau tidak sekadar menambahkan materi lingkungan ke dalam pembelajaran. Pendekatan ini menjadikan lingkungan sebagai konteks untuk melatih siswa berpikir kritis, mengambil keputusan, dan bertindak secara bertanggung jawab.
Siswa tidak cukup hanya diberi tahu bahwa sampah dapat mencemari lingkungan. Mereka perlu diajak mengamati persoalan, mencari penyebab, menganalisis data, berdiskusi, dan merancang solusi.
Salah satu kegiatan yang dapat diterapkan ialah audit sampah kantin sekolah.
Siswa dibagi dalam kelompok untuk mencatat jenis dan jumlah sampah selama beberapa hari. Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui jenis sampah yang paling dominan dan kemungkinan cara menguranginya.
Kegiatan sederhana ini dapat menghubungkan berbagai bidang pembelajaran. Siswa menggunakan matematika untuk menghitung jumlah sampah, sains untuk memahami dampaknya, serta keterampilan komunikasi dan kerja sama untuk menyusun solusi.
Pendidikan lingkungan pun menjadi pengalaman nyata, bukan sekadar teori yang dihafalkan.
Pendidikan Tidak Cukup Membuat Siswa Tahu
Persoalan lingkungan tidak selalu terjadi karena manusia tidak mengetahui pentingnya menjaga alam.
Kita tahu membuang sampah sembarangan itu salah. Kita tahu penggunaan plastik sekali pakai perlu dikurangi. Kita juga tahu makanan sebaiknya tidak dibuang begitu saja.
Namun, mengetahui belum tentu membuat seseorang mengubah perilakunya.
Karena itu, pendidikan lingkungan perlu membawa siswa melalui proses yang lebih jauh: mengetahui, memahami, mempertimbangkan, mengambil keputusan, hingga bertindak.
Sekolah memiliki peran penting dalam membangun proses tersebut. Siswa perlu dibiasakan bertanya sebelum membuang, berpikir sebelum membeli, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil keputusan.
Ketika kebiasaan itu tumbuh, pendidikan lingkungan tidak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mengajarkan Sebelum Membuang
Memilah sampah tetap penting. Namun, pendidikan lingkungan perlu memperluas pertanyaan yang diajarkan kepada siswa.
Bukan hanya, "Sampah ini harus dibuang ke mana?"
Melainkan juga, "Apakah sampah ini sebenarnya perlu dihasilkan?"
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi dapat mengubah cara siswa memandang persoalan lingkungan.
Pemerintah dapat membangun sistem pengelolaan sampah. Sekolah dapat menyediakan fasilitas pemilahan. Kantin dapat mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Namun, semua upaya itu akan lebih bermakna jika siswa tidak hanya menjadi pengguna sistem, tetapi juga memahami alasan di baliknya dan ikut mengubah kebiasaan.
Pada akhirnya, sekolah hijau bukan sekadar sekolah yang memiliki banyak pohon, tempat sampah terpilah, atau program lingkungan. Sekolah hijau juga harus mampu membentuk siswa yang memahami hubungan antara pilihan sehari-hari dan dampaknya terhadap lingkungan.
Sebab, tujuan pendidikan lingkungan bukan hanya membuat siswa tahu warna tempat sampah, melainkan membangun kesadaran untuk mencegah sampah sejak awal.
Sebelum mengajarkan anak ke mana sampah harus dibuang, mungkin kita perlu lebih dahulu membiasakan mereka bertanya, Perlukah sampah ini ada?
Penulis: Evelyn Hilkia Rumegius Simanjuntak (Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Riau)