Petani Kalbar Pelajari Kemitraan Sawit PTPN IV PalmCo di Riau

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:22:02 WIB
Petani Kalbar Pelajari Kemitraan Sawit PTPN IV PalmCo.

PEKANBARU (RA) - Sejumlah petani, pengurus koperasi, pemerintah desa, dan perwakilan dinas perkebunan dari Kalimantan Barat mempelajari pola kemitraan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang dikembangkan PTPN IV PalmCo di Riau.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai referensi untuk mempercepat Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kalimantan Barat. Selama sepekan, rombongan mengunjungi kebun petani di Riau dan berdiskusi langsung dengan petani mitra untuk mempelajari budidaya, pendampingan, peningkatan produktivitas hingga pengelolaan perkebunan berkelanjutan.

Reza Pahlevi, verifikator PSR Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau, menilai pelaksanaan PSR yang mereka lihat di Riau menunjukkan kolaborasi kuat antara petani, koperasi, pemerintah dan perusahaan.

"Kalau berdasarkan pengamatan saya, di sini seperti utopia PSR-nya. Sangat maju. Masyarakat, pengurus KUD, pemerintah, termasuk perusahaan sangat berdedikasi untuk melaksanakan program ini," kata Reza.

Menurutnya, salah satu hal yang menarik adalah pendampingan teknis yang dilakukan perusahaan secara berkelanjutan. Pendampingan tidak berhenti setelah tanaman ditanam, tetapi dilakukan sepanjang siklus perkebunan.

"Dari perusahaan juga sampai mengirim orang untuk membina dari awal sampai nanti tumbang lagi. Itu komitmen yang sangat bagus. Kami berharap seluruh pemangku kepentingan di tempat kami bisa mengikuti hal-hal baik yang ada di sini," ujarnya.

Ketua Koperasi Produsen Jaya Landak Makmur, Supendi, juga melihat pola kemitraan tersebut sebagai referensi penting. Koperasi yang berada di Ngabang, Kabupaten Landak, memiliki sekitar 500 hektare areal dengan 500 anggota dan tengah mempersiapkan kemitraan dengan PTPN.

"Selama studi banding di PTPN IV Regional III di Riau, kami melihat tanaman kelapa sawit yang betul-betul menjanjikan bagi petani. Mulai dari proses PSR, perawatan, pembinaan hingga produksi, petani dibina secara teknis," kata Supendi.

Ia menyebut peserta juga berkesempatan berkomunikasi langsung dengan petani mitra yang telah menjalankan program tersebut. Pengalaman itu memberikan gambaran mengenai pola kemitraan dari sisi perusahaan sekaligus pengalaman petani di lapangan.

Supendi berharap praktik yang diterapkan di Riau dapat diadaptasi sesuai karakter masyarakat dan wilayah Kalimantan Barat.

"Kultur daerah, budaya dan karakter masyarakat tentu berbeda. Namun kalau kami bisa menerapkan 50 sampai 60 persen saja dari apa yang kami lihat di sini, itu sudah luar biasa. Selanjutnya tentu kami berharap bisa berkembang sampai 80 atau 90 persen," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Sugito, mengatakan kunjungan tersebut memberikan wawasan mengenai pengelolaan PSR secara terintegrasi.

Selama tiga hari, rombongan melihat langsung kebun petani, proses pengolahan di pabrik hingga pola pendampingan yang dijalankan bersama PTPN IV Regional III.

"Studi banding ini sangat diperlukan dan sangat bermanfaat bagi kami untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai PSR," katanya.

Menurut Sugito, kunjungan langsung ke kebun menjadi bagian penting karena peserta dapat melihat kondisi tanaman dan produktivitas petani yang menjalankan pola kemitraan.

"Yang kami lihat, program PSR yang bermitra dengan PTPN ini sangat bagus. Hasil produksi petaninya juga kami lihat langsung di lapangan," ujarnya.

Ia berharap pola kemitraan tersebut dapat dikembangkan di Kalimantan Barat.

"Kami berharap, bahkan bermimpi, petani di tempat kami di Kalimantan Barat juga bisa menjalankan PSR dengan bermitra bersama PTPN. Kami ingin memotivasi kawan-kawan petani agar bisa bekerja sama dan membangun kemitraan seperti yang kami lihat di Riau," katanya.

Selain produktivitas, peserta juga menyoroti pentingnya aspek keberlanjutan. Reza mengatakan praktik budidaya yang baik, termasuk pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, menjadi bagian penting dalam pengelolaan sawit rakyat.

Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Sanggau telah menyampaikan larangan pembakaran lahan, termasuk pada areal PSR. Hingga kini, menurutnya, belum ada laporan lahan PSR di wilayah tersebut yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

"Kami berharap kegiatan karhutla terus berkurang. Dengan pengelolaan yang semakin baik, kualitas CPO kita juga akan meningkat sehingga memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar dunia," katanya.

Terkini

Terpopuler