Ini yang Terjadi pada Otak Anak Jika Keseringan Konsumsi Gula

Jumat, 02 Oktober 2026 | 06:34:00 WIB
Ilustrasi

RIAUAKTUAL (RA) - Pola makan dan kesehatan mental ternyata saling berkaitan. Penelitian menunjukkan bahwa apa yang dikonsumsi berhubungan dengan perkembangan masalah seperti depresi dan kecemasan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Translational Psychiatry pada Agustus 2026 menemukan bahwa paparan dini terhadap suatu makanan populer bisa menyebabkan kecemasan di kemudian hari.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang menghubungkan makanan manis dan kesehatan mental, para peneliti dari Surrey University ingin mengeksplorasi bagaimana pola makan memengaruhi kesehatan mental seseorang hingga dewasa.

"Kami secara khusus tertarik untuk memahami apakah mengonsumsi gula di awal kehidupan dapat berkontribusi pada kejadian masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan di kemudian hari," kata penulis utama studi, Dr Hana Navratilova, mengutip detikcom.

Analisis terhadap data medis lebih dari 45.000 peserta UK Biobank menunjukkan bahwa paparan gula selama 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat meningkatkan risiko mengalami kecemasan saat dewasa.

Peneliti juga menemukan bahwa asupan gula pada masa awal kehidupan secara signifikan memengaruhi perkembangan otak, terutama pada 11 dari 80 wilayah otak yang diteliti.

Peserta penelitian dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan periode pembatasan gula yang mereka alami, yakni sejak dalam kandungan hingga usia 6, 12, 18, dan 24 bulan, serta kelompok yang hanya mengalami pembatasan gula selama berada dalam kandungan.

Risiko mengalami kecemasan paling rendah ditemukan pada peserta yang tidak banyak terpapar gula sejak dalam kandungan hingga dua tahun pertama kehidupan.

Perempuan yang tidak mengalami pembatasan asupan gula pada masa awal kehidupannya juga lebih berisiko mengalami kecemasan.

Paparan gula sejak dini juga dapat memengaruhi pola makan dalam jangka panjang. Peserta yang mengalami pembatasan paparan gula paling lama, yakni sejak dalam kandungan hingga usia 24 bulan, dilaporkan memiliki ketertarikan yang lebih rendah terhadap makanan manis saat dewasa.

"Meskipun terjadi peningkatan konsumsi gula setelah penjatahan di antara para peserta, lingkungan nutrisi awal tampaknya memiliki relevansi jangka panjang bagi kesehatan mental," kata penulis studi, Profesor Nophar Geifman.

Salah satu faktor yang memengaruhi data tersebut adalah kenyataan bahwa para peserta lahir antara tahun 1956 dan 1961, ketika penjatahan gula pascaperang masih berlaku sepenuhnya hingga saat penjatahan dihapuskan secara bertahap.

Dalam periode ini, banyak orang tidak mengonsumsi gula secara berlebihan dalam diet mereka dan kemudian mengonsumsinya selama periode waktu yang lama.

Organisasi kesehatan, termasuk Department of Agriculture and Department of Health and Human Services merekomendasikan agar anak-anak mengonsumsi kurang dari 25 gram gula per hari. Namun, banyak orang yang mengonsumsi jauh lebih banyak, yaitu sekitar 68-81 gram dari makanan UPF seperti biskuit, eskrim, minuman manis, dan lain sebagainya.

Terkini

Terpopuler