RIAUAKTUAL (RA) - Bagi sebagian orang Indonesia, makan terasa belum lengkap ketika nasi belum hadir di atas piring. Kebiasaan tersebut bukan sekadar soal selera, tetapi terbentuk dari sejarah, budaya, hingga kebijakan pangan.
Melansir dari laman Universitas Indonesia, budidaya padi telah berkembang sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di wilayah Nusantara. Masyarakat, terutama di Jawa, kemudian mengembangkan sistem pertanian dan irigasi yang mendukung produksi padi secara andal.
Iklim tropis, curah hujan tinggi, dan kondisi tanah yang subur mendukung pertumbuhan padi di Indonesia. Kondisi tersebut membuat jumlah sawah berkembang luas, terutama di Jawa, Sumatera, dan Bali.
Ketersediaan padi yang melimpah membuat beras menjadi pangan yang mudah diakses masyarakat. Beras kemudian diolah menjadi nasi, sehingga makanan tersebut dianggap praktis, terjangkau, dan mudah diperoleh.
Selain faktor alam, nasi berkembang menjadi bagian penting dalam berbagai tradisi dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Nasi turut hadir dalam berbagai ritual adat dan upacara keagamaan.
Dalam berbagai perayaan, nasi juga memiliki makna simbolis yang memperkuat kedudukannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melansir Universitas Indonesia, tumpeng menjadi simbol syukur, sedangkan nasi kuning dikaitkan dengan emas dan kemakmuran.
Posisi nasi semakin kuat ketika kebijakan pangan pemerintah ikut membentuk pola konsumsi masyarakat Indonesia pada masa modern. Program swasembada beras pada masa Orde Baru turut menjadikan beras simbol kesejahteraan dan kemakmuran.
Pada masa itu, sumber pangan jagung, sagu, singkong, dan ubi perlahan ditinggalkan di sejumlah daerah. Konsumsi nasi kemudian dikaitkan dengan modernitas, sementara pangan lokal mendapat stigma sosial tertentu.
Nasi juga memiliki karakter rasa yang membuatnya mudah menyatu dengan beragam hidangan khas Indonesia. Rasa nasi yang netral dapat menyeimbangkan lauk bercita rasa pedas, asam, gurih, dan kaya rempah.
Dari sisi kebutuhan energi, nasi juga menjadi pilihan karena mengandung karbohidrat yang dapat digunakan tubuh sebagai sumber tenaga. Melansir Beras Harumas, nasi dianggap sumber pangan ideal karena terjangkau, mengenyangkan, dan mudah dipadukan dengan lauk.
Kebiasaan makan nasi kemudian terus diwariskan antargenerasi, sehingga muncul anggapan belum makan jika belum menyantap nasi. Keterikatan tersebut menunjukkan bahwa nasi telah melekat dalam cara pandang dan kebiasaan masyarakat.
Meski berbagai sumber karbohidrat lain tetap dikonsumsi, nasi masih menempati posisi penting dalam pola makan masyarakat Indonesia. Nasi akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner dan sejarah panjang Indonesia sebagai negeri agraris.