Kematian Beruntun Gajah di PLG Minas karena Pencernaan, Pakan Pelepah Sawit Perlu Ditelusuri

Kamis, 24 September 2026 | 20:04:19 WIB
Pemberian pelepah sawit kepada gajah sebagai asupan makanan tambahan.

PEKANBARU (RA) - Kematian dua gajah binaan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Riau, dalam rentang waktu sekitar satu setengah bulan menjadi perhatian. Keduanya sama-sama mengalami gangguan pada saluran pencernaan sebelum akhirnya mati.

Gajah jantan bernama Jovi, berusia sekitar 46 tahun, mati pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 20.47 WIB. Jovi sebelumnya menjalani perawatan intensif selama 34 hari.

Sekitar enam minggu kemudian, gajah Sumatera jantan bernama Diego yang berusia 17 tahun juga mati. Diego ditemukan mati pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Kematian dua gajah tersebut memiliki catatan medis yang berkaitan dengan sistem pencernaan.

Jovi disebut mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang kemudian memicu kelemahan otot berat atau myopathy.

Sementara hasil nekropsi terhadap Diego menunjukkan adanya dugaan infeksi kronis pada saluran pencernaan.

Kesamaan persoalan tersebut menjadi perhatian karena di PLG Minas terdapat pola pemberian pakan tambahan kepada gajah binaan. Salah satu pakan tambahan yang diberikan adalah pelepah sawit.

Kabid Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin membenarkan bahwa pelepah sawit menjadi salah satu pakan tambahan untuk gajah binaan.

"Benar. Itu memang bagian dari pakan tambahan, salah satu yang diberikan adalah pelepah sawit. Kemudian ada pelepah pisang, batang jagung dan penambahan nutrisi lainnya baik gula, beras, dedak atau garam," Kata Ujang Kamis (24/9/2026).

Ujang juga membenarkan bahwa Jovi dan Diego mengalami persoalan pada saluran pencernaan sebelum kematian.

"Hasil nekropsi dijelaskan mengenai adanya infeksi saluran pencernaan. Kami hanya mengamati kondisi kotoran yang mati," ujarnya.

Aktivis pemerhati gajah sekaligus founder For Gajah, Rahman Fitriani Dwi Kurniasari, mengatakan pemberian pelepah sawit sebagai pakan tambahan tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab kematian gajah.

Namun, menurutnya, kesamaan gangguan pencernaan yang dialami dua gajah dalam waktu berdekatan membuat pola pemberian pakan menjadi salah satu aspek yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

"Perlu dikaji ulang terkait pemberian pelepah sawit terhadap gajah-gajah binaan milik negara. Bagaimana pun, sangat perlu meminimalisir risiko kematian gajah binaan apalagi breeding program gajah ini tidak pula sesuatu yang instan," katanya.

Fitriani juga mengungkapkan pihaknya menerima informasi mengenai aktivitas perawatan gajah di PLG Minas. Berdasarkan informasi tersebut, terdapat gajah lain yang sempat mengalami perubahan nafsu makan ketika mendapatkan pakan tambahan berupa pelepah.

Salah satunya adalah gajah bernama Dayang.

Dayang disebut mulai menunjukkan perubahan perilaku makan sejak 10 Agustus 2026. Pada hari tersebut, pakan berupa pelepah tidak dimakan.

Kondisi itu disebut berlanjut ketika pelepah kembali diberikan. Sementara nanas, jagung dan pisang masih dikonsumsi, meski dengan tempo yang lebih lambat.

Catatan tersebut, kata Fitriani, belum dapat membuktikan bahwa pelepah menjadi penyebab gangguan kesehatan Dayang.

Namun, perubahan perilaku makan yang berulang dan terjadi bersamaan dengan pemberian pakan tertentu dinilai menjadi informasi yang layak diperiksa secara ilmiah.

"Amat disayangkan jika tidak ada evaluasi lanjutan setelah kematian Jovi dan Diego," ungkapnya.

Fitriani menegaskan, dalam kasus kematian satwa, hubungan antara jenis pakan dengan penyakit tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kesamaan gejala.

Menurutnya, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi saluran pencernaan, mikroorganisme penyebab infeksi, kualitas dan kebersihan pakan, kandungan nutrisi, kemungkinan kontaminasi, hingga cara pengolahan dan penyimpanan pakan.

Sumber pakan juga dinilai perlu ditelusuri. Termasuk dari mana pelepah sawit diperoleh, bagaimana pelepah tersebut dipotong dan disimpan, jumlah yang diberikan kepada masing-masing gajah, hingga kemungkinan adanya perubahan sumber atau kualitas pakan sebelum munculnya gangguan kesehatan.

"Hal ini penting karena pelepah sawit sendiri tidak otomatis dapat dianggap sebagai bahan yang menyebabkan kematian gajah. Faktor lain, termasuk infeksi, kondisi kesehatan individu, kualitas pakan, parasit, bakteri atau gangguan metabolisme, juga dapat berperan," tuturnya.

Jovi merupakan gajah jantan dewasa berusia sekitar 46 tahun dan telah menjadi bagian dari PLG Minas sejak 1998. Ia mati pada 3 Agustus 2026 setelah menjalani perawatan selama 34 hari.

Sementara Diego berusia 17 tahun dan lahir di PLG Minas pada 3 September 2009. Diego kemudian mati pada 16 September 2026, sekitar enam minggu setelah kematian Jovi.

Meski memiliki usia dan kondisi yang berbeda, keduanya sama-sama tercatat mengalami persoalan pada sistem pencernaan sebelum kematian.

Kesamaan tersebut belum membuktikan adanya hubungan langsung dengan pemberian pelepah sawit.

Namun, rangkaian kematian dan perubahan pola makan pada gajah lainnya menjadi alasan penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesehatan satwa, kualitas pakan, serta tata kelola pemberian pakan di PLG Minas.

Tags

Terkini

Terpopuler