BMKG: Riau Masuk Musim Hujan

Rabu, 23 September 2026 | 14:43:29 WIB
Koordinator BMKG Wilayah Riau, Warjono,

PEKANBARU (RA) - Sejumlah wilayah di Provinsi Riau mulai memasuki musim penghujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah bagian utara menjadi daerah yang lebih dahulu mengalami peningkatan curah hujan.

Koordinator BMKG Wilayah Riau, Warjono, mengatakan Riau saat ini berada dalam fase peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan.

Hal tersebut disampaikannya setelah bertemu dengan Plt Gubernur Riau untuk membahas prakiraan musim penghujan, potensi cuaca ekstrem, serta strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Ya, tadi kita sudah bertemu dengan Pak Plt Gubernur Riau terkait dengan prakiraan musim penghujan. Ada beberapa poin penting terkait masa peralihan musim, potensi cuaca ekstrem, dan strategi penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau. Saat ini, wilayah Riau sedang berada dalam fase peralihan ke musim penghujan," ujar Warjono di Kantor Gubernur Riau, Rabu (23/9/2026).

Warjono menjelaskan, beberapa daerah di bagian utara Riau seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir dan sebagian Bengkalis sudah mulai memasuki musim hujan.

Sementara pada bulan berikutnya, pola hujan diperkirakan mulai bergeser ke wilayah selatan Riau.

"Sebagian wilayah utara seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan sebagian Bengkalis sudah mulai memasuki musim hujan. Pada bulan depan, curah hujan akan bergeser ke wilayah selatan, meliputi Kampar, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir," jelasnya.

Menurutnya, puncak musim penghujan di Riau diperkirakan terjadi pada November hingga Desember. Meski berlangsung dalam periode yang relatif singkat, curah hujan pada periode tersebut diperkirakan cukup tinggi.

"Puncak musim penghujan diprediksi akan terjadi pada bulan November hingga Desember. Musim penghujan kali ini berdurasi cukup singkat, namun memiliki volume curah hujan yang sangat tinggi," terangnya.

Warjono mengibaratkan kondisi tersebut seperti curah hujan yang seharusnya terjadi selama enam bulan, namun harus turun dalam waktu sekitar empat bulan.

"Diibaratkan seperti hujan enam bulan yang harus turun dalam waktu empat bulan, sehingga intensitasnya akan sangat deras dalam waktu singkat," ungkapnya.

Kondisi itu perlu diantisipasi karena hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem dan banjir di sejumlah wilayah.

"Perlu diwaspadai, akibat tingginya volume hujan dalam waktu singkat tersebut muncul awan-awan yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem. Sehingga masyarakat harus mewaspadai ancaman banjir dan longsor," jelasnya.

Namun, Warjono mengingatkan masuknya musim penghujan bukan berarti ancaman karhutla langsung berakhir. Masih terdapat periode dengan curah hujan rendah yang dapat membuat lahan kembali kering.

"Jadi ada dua hal yang perlu kita waspadai. Di musim hujan masih ada potensi karhutla, sementara di sisi lain kita juga mulai beralih kepada kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem," tegasnya.

Tags

Terkini

Terpopuler