Petaka Besar Menghantui Gen Z, Masa Depan Makin Suram

Jumat, 22 Mei 2026 | 06:11:28 WIB
Ilustrasi gen z.

RIAUAKTUAL (RA) - Generasi muda menghadapi tantangan yang kian berat. Di tengah guncangan geopolitik dan gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI), gelombang PHK terus terjadi.

Perusahaan cenderung mengerem perekrutan karyawan baru, sembari menggenjot efisiensi melalui adopsi teknologi AI. Alhasil, banyak lulusan kuliah sulit mendapatkan pekerjaan dan berakhir sebagai pengangguran, atau mencari nafkah melalui jalur informal yang penuh ketidakpastian.

Fenomena ini memperlihatkan revolusi AI yang makin nyata dan tak terelakkan. AI telah mengubah lanskap industri dan pasar di seluruh dunia.

Rasa takut makin mendalam di kalangan "generasi digital" muda yang kini memasuki dunia kerja. Mereka khawatir dengan dampak AI terhadap pekerjaan dan kehidupan sehari-hari seiring dengan makin dikenalnya ChatGPT, Claude, Gemini, dkk.

Mantan CEO Google, Eric Schmidt, memvalidasi kekhawatiran para generasi muda yang masuk kelompok Gen Z. Dalam pidatonya di acara kelulusan University of Arizona, Schmidt terang-terangan menyebut dampak AI akan lebih besar, lebih cepat, dan lebih konsekuensional, ketimbang inovasi-inovasi teknologi yang ada sebelumnya.

"[AI] akan menyentuh setiap profesi, setiap ruang kelas, setiap rumah sakit, setiap laboratorium, setiap orang, dan setiap hubungan yang Anda miliki," katanya, dikutip dari Reuters.

Pidato itu langsung mendapat sorakan ejekan dari para audiens, yakni para lulusan kuliah. Hal ini menunjukkan penolakan keras dan ketakutan para lulusan kuliah menghadapi realita kehidupan di era AI.

Ketakutan itu bukan tanpa dasar. Baru-baru ini, raksasa perbankan Standard Chartered mengumumkan rencana PHK yang berdampak ke 7.000 pekerja. Perusahaan asal Inggris itu tak segan menyebut akan mengganti 'SDM rendah' dengan AI.

Banyak perusahaan teknologi yang juga melakukan PHK dan mengaitkan keputusan itu dengan AI. Meta Platforms yang menanam software pelacak pada komputer karyawannya untuk melatih AI, mengumumkan rencana PHK yang berdampak pada 10% tenaga kerjanya secara global mulai bulan ini. Gelombang PHK massal di Meta sudah terjadi berkali-kali sejak 2022 silam.

Amazon juga memangkas 30.000 pekerjanya dalam beberapa bulan terakhir, dengan alasan efisiensi. Sementara itu, perusahaan fintech Block pada Februari lalu juga melakukan PHK untuk setengah pekerjanya.

Schmidt mengakui ketakutan generasi muda saat ini rasional. Namun, sama seperti para bos-bos industri teknologi saat ini, ia menggambarkan perubahan dan disrupsi yang dibawa AI sebagai sesuatu yang tak terhindarkan dan semua orang perlu beradaptasi dengannya, mau tak mau.

Dalam survei yang dilakukan Walton Family Foundation, GSV Ventures, dan Gallup dari Februari-Maret 2026, para Gen Z tampak makin tertekan dengan perkembangan AI yang kian masif.

Dibandingkan tahun sebelumnya, saat ini lebih sedikit Gen Z yang bersemangat dan optimis dengan kehadiran AI. Sebaliknya, makin banyak yang merasa marah dan cemas tentang risiko AI pada pekerjaan dan relasi antar-manusia.

Ketika para CEO dan orang-orang terkaya dunia merangkul AI, sudah banyak muncul tanda-tanda penolakan, mulai dari pengadilan China, hingga serikat pekerja di produsen mobil Korea Selatan, penulis skenario Hollywood, dan industri film India.

Tanda ketidaknyamanan paling jelas terhadap visi dunia yang ditawarkan raksasa teknologi adalah meningkatnya ketidakpuasan di kalangan generasi muda di AS.

Dalam survei Februari-Maret 2026, hampir setengah responden mengatakan risiko 'mudarat' AI lebih besar ketimbang manfaat yang ditawarkan. Beberapa orang mengaku saat ini perlu menguasai AI alias menjadi 'AI-savvy'. Namun, di saat yang sama, mereka merasa adopsi AI menghambat kreativitas dan proses pembelajaran yang lebih mendalam.

"Emosi negatif lebih intens dalam survei terbaru ketimbang tahun lalu," kata para peneliti survei. "Generasi muda yang masuk ke dunia kerja saat ini lebih banyak melihat mudarat ketimbang manfaat AI," laporan itu menuliskan.

Survei juga menunjukkan bahwa pandangan positif terkait AI meningkat seiring dengan level penggunaannya. Namun, bagi yang belum terlalu menggunakan AI, pandangan mereka cenderung negatif.

Pidato Schimdt yang disambut ejekan bukan kali pertama terjadi di universitas. Sebelumnya, di University of Central Florida, petinggi real estate Gloria Caulfield juga mendapat ejekan serupa saat berpidato membahas AI.

"Munculnya AI adalah revolusi industri berikutnya," katanya saat sorakan ejekan terdengar dan membuatnya terkejut.

"Apa yang terjadi? Oke, saya telah menyentuh titik sensitif. Hanya beberapa tahun yang lalu AI bukanlah faktor dalam kehidupan kita," kata dia, dan langsung dipenuhi sorak sorai.

Terkini

Terpopuler