RIAUAKTUAL (RA) - Perbincangan warganet di media sosial tengah ramai menyoroti anggapan bahwa bagi introvert, berbicara selama satu jam terasa melelahkan layaknya berolahraga.
Dalam sebuah unggahan akun Instagram @mamasa*** yang mengutip sebuah studi disebutkan bahwa seorang introvert cenderung merasa lelah setara habis olahraga jika ngobrol dengan seseorang selama satu jam.
"Buat banyak orang, ngobrol sejam itu hal biasa. Tapi bagi introvert, ini bisa sangat menguras energi,” tulis akun itu.
Unggahan tersebut juga merujuk pada studi dalam Journal of Personality yang menyebutkan bahwa introvert cenderung memproses interaksi sosial secara lebih mendalam, sehingga lebih cepat mengalami kelelahan.
Konsep social battery (baterai sosial) pun ikut disinggung untuk menjelaskan mengapa individu introvert membutuhkan waktu sendiri guna memulihkan energi.
Bahkan, penelitian dari University of Helsinki mengungkap bahwa kelelahan sosial dapat muncul setelah beberapa jam berinteraksi dan sensasinya mirip dengan kelelahan fisik.
Unggahan itu kemudian memicu beragam respons dari warganet.
“Introvert atau gangguan mental nih? Introvert itu hanya memulihkan energi lewat refleksi, ketenangan batin, dan aktivitas yang biasa dilakukan saat sendirian, bukan berarti saat ngobrol energi terkuras,” tulis @malik_w***.
Namun, tak sedikit pula yang merasa sependapat dengan pernyataan tersebut.
“Bener,” kata juneve*** singkat, disertai emoji tertawa.
Lantas, benarkah berbicara selama satu jam bagi introvert bisa terasa melelahkan seperti habis berolahraga?
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal menjelaskan, fenomena mengenai seorang introvert yang capeknya setara habis olahraga jika ngobrol dengan orang selama satu jam sering disebut dalam psikologi sebagai Introvert Hangover atau kelelahan sosial.
"Secara dinamis, bagi seorang introvert, interaksi sosial bukanlah kegiatan yang 'mengisi baterai', melainkan kegiatan yang 'menguras daya', meskipun interaksi tersebut menyenangkan," terang Danti seperti dilansir dari Kompas.com.
Lebih lanjut Danti menganalisis mendalam terkait dinamika psikologis dan biologis dari kondisi tersebut.
Danti menjelaskan, perbandingan antara kelelahan sosial dan kelelahan fisik akibat olahraga memang memiliki kemiripan secara subjektif, meski berbeda dari sisi mekanisme biologisnya.
Dari sisi persamaan, keduanya sama-sama melibatkan sistem saraf pusat.
Saat berolahraga, tubuh mengalami kelelahan perifer seperti pada otot dan cadangan glikogen.
Sementara itu, ketika bersosialisasi, introvert cenderung mengalami kelelahan sentral yang bersifat neuropsikologis.
“Keduanya memicu respons stres yang serupa (peningkatan kortisol dalam dosis kecil) yang membuat tubuh merasa butuh pemulihan (recovery),” jelasnya.
Namun, secara biologis terdapat perbedaan mendasar. Aktivitas olahraga menguras energi fisik sekaligus memicu pelepasan endorfin dan dopamin dalam jumlah besar.
Sebaliknya, interaksi sosial pada introvert justru dapat memicu overstimulasi sistem saraf simpatik.
Jika olahraga menyebabkan otot terasa lemas akibat asam laktat, maka kelelahan sosial membuat otak terasa “lemas” karena beban pemrosesan informasi yang berlebih.
Dari tinjauan psikologis, kelelahan sosial pada introvert bersifat kognitif-emosional. Proses ini, menurut Danti, secara energi sama mahalnya dengan aktivitas fisik berat.
"Otak bekerja ekstra keras untuk memproses bahasa tubuh, nada bicara, dan norma sosial, yang secara energetik sama mahalnya dengan aktivitas fisik berat," paparnya.
Danti menjelaskan, penyebab utama kelelahan pada introvert bukan karena tidak suka orang, melainkan berkaitan dengan cara otak memproses rangsangan.
Dari sisi ambang batas stimulasi, ia merujuk pada Teori Hans Eysenck.
"Dalam teori tersebut, introvert disebut memiliki tingkat basal cortical arousal yang lebih tinggi," tutur Danti.
Artinya, lanjut Danti, meski dalam kondisi diam, otak mereka sudah cukup aktif.
Ketika interaksi sosial terjadi, stimulasi tambahan dengan cepat melampaui ambang batas nyaman dan memicu overstimulasi.
"Selain itu, terdapat perbedaan pada jalur neurotransmiter. Ekstrovert cenderung sangat responsif terhadap dopamin, yakni hormon yang berkaitan dengan rasa senang dari stimulasi eksternal," terang Danti.
Sebaliknya, introvert lebih sensitif terhadap dopamin, dalam jumlah berlebih justru bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau lelah.
"Mereka (introvert) cenderung mengandalkan asetilkolin, neurotransmiter yang berperan dalam ketenangan, refleksi diri, dan konsentrasi mendalam," jelas Danti.
Dari aspek beban kognitif, aktivitas mengobrol membuat bagian otak prefrontal cortex bekerja ekstra. Area ini berperan dalam regulasi diri, seperti menjaga sikap, menyusun respons, hingga menyaring distraksi dari lingkungan.
"Pada introvert, proses penyaringan ini berlangsung lebih intens, sehingga memicu kelelahan kognitif lebih cepat," paparnya.
Danti menegaskan, durasi satu jam bukanlah patokan universal untuk mengukur kelelahan sosial pada introvert. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor kontekstual. Salah satunya adalah jenis percakapan.
"Small talk atau basa-basi cenderung lebih menguras energi dibanding deep talk, karena dianggap kurang bermakna dan menuntut usaha kognitif lebih besar untuk menjaga alur obrolan," jelas Danti.
Jumlah orang juga berperan. Interaksi satu lawan satu (one-on-one) umumnya lebih hemat energi, sedangkan berada dalam kelompok besar membuat introvert harus memproses banyak rangsangan sekaligus.
Faktor lingkungan turut menentukan menurut Danti. Tempat yang bising, seperti kafe dengan musik keras, dapat menambah beban sensorik terutama dari sisi audio sehingga mempercepat munculnya kelelahan sosial.
"Selain itu, tingkat keakraban juga menjadi penentu penting. Berinteraksi dengan orang asing menuntut penggunaan “topeng sosial” (masking) yang lebih berat. Sebaliknya, bersama teman dekat, beban tersebut jauh berkurang," tandasnya.