Agus: Jadi Ketum Partai Demokrat Abal-abal Versi KLB Ilegal, Moeldoko Jilat Ludah Sendiri

Jumat, 05 Maret 2021 - 19:11:58 WIB Di Baca : 862 Kali


Riauaktual.com - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko telah menjilat ludah sendiri.

AHY mengatakan, segala bantahan yang disampaikan Moeldoko patah seketika, begitu ia bersedia didaulat menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) pada Jumat (5/2).

"KSP Moeldoko yang selama ini mengelak, kini sudah terang-benderang. Terbukti ketika diminta para pelaku GPK-PD (Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat, Red) walaupun acaranya tertutup tapi bisa kita ikuti, yang bersangkutan menerima ketika diminta menjadi Ketua Umum Demokrat versi KLB Sumut," kata AHY melalui konferensi pers virtual, Jumat (5/2) dikutip dari RM.id.

AHY menilai, kesediaan Moeldoko meruntuhkan segala macam pengakuannya tentang KLB Partai Demokrat. Yang katanya tidak tahu-menahu, tidak ikut-ikutan, tidak terlibat, hingga mengatakan semua ini adalah permasalahan internal demokrat.

"Faktanya, KSP bukan internal demokrat. Jadi, jelas ini bukan hanya permasalahan internal demokrat. Segelintir kader, mantan kader yang tadi semangat sekali mengikuti KLB, tak mungkin punya semangat dan keyakinan, kalau tidak mendapat dukungan dari KSP Moeldoko," papar AHY.

"Jadi, sekali lagi saya mengatakan, bahwa apa yang ia katakan selama ini, ia pungkiri sendiri melalui kesediaannya menjadi Ketua Umum Partai Demokrat abal-abal versi KLB ilegal. Artinya, sejak awal, motif dan keterlibatan KSP Moeldoko tidak berubah. Yakni, ingin mengambilalih kepemimpinan Partai Demokrat yang sah, menggunakan cara-cara inskonstitusional, serta jauh dari moral an etika politik," terang AHY.

Putra sulung Presiden ke-6 RI yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyesalkan perilaku Moeldoko, yang dinilainya bukan perilaku ksatria.

"Kini saya persilakan seluruh masyarakat Indonesia yang saya cintai dan muliakan, untuk menilai sendiri sikap dan perilaku tersebut. Bagi kami, itu bukanlah perilaku ksatria. Bukan juga contoh yang baik bagi seluruh masyarakat dan generasi muda Indonesia," kata AHY.

"Kami tentu sangat menghormati senior dan pendahulu. Saya juga dulu prajurit, beliau juga prajurit. Dalam keprajuritan, menghormati senior adalah hal yang wajib.Tetapi dari para senior pula, saya mendapat pelajaran, bahwa tidak semuanya bisa dijadikan contoh yang baik," pungkasnya.





Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com