Ilustrasi mencukur bulu kemaluan. © Greenmows.co.nz

Mencukur Bulu Kemaluan Ternyata Tidak Sebabkan Bahaya Seperti yang Diketahui

Sabtu,21 September 2019 - 10:53:18 WIB Di Baca : 14399 Kali

Riauaktual.com - Selama ini, mencukur bulu kemaluan selalu diidentikkan dengan berbagai risiko kesehatan yang mungkin mengancam. Mencukur bulu kemaluan terutama pada wanita disebut bisa meningkatkan risiko adanya lecet di organ intim bahkan hingga penyakit menular seksual.

Adanya risiko tersebut membuat banyak wanita menjadi takut mencukur rambut kemaluan karena dapat memudahkan tertular serta menularnya penyakit menular seksual. Namun sebuah penelitian terbaru membantah anggapan tersebut dan membuat banyak wanita kini bisa bernapas lebih lega.

Temuan ini didapat berdasar penelitian yang melibatkan 214 wanita yang mendapat tes mengenai penyakit menular seksual di Ohio State University. Para partisipan ini diberi kuisioner mengenai perilaku seksual dan perawatan tubuh mereka.

Loading...

Hampir seluruh partisipan (98 persen) mengungkap bahwa mereka melakukan perawatan diri berupa bercukur. Antara 18 persen hingga 54 persen mengaku bahwa mereka bercukur secara ekstrem dengan mencukur gundul rambut kemaluan setidaknya tiap minggu atau enam kali pada bulan lalu.

Sekitar 10 persen partisipan diketahui positif mengidap penyakit menular seksual. Namun diketahui tak ada hubungannya antara hal tersebut dengan risiko klamidia dan gonorea.

"Penelitian terdahulu menanyai partisipan apakah mereka pernah mengalami penyakit menular seksual, namun tidak mengukur apakah seseorang sedang mengalaminya pada saat penelitian. Hal ini membuat hubungan antara kebiasaan bercukur saat ini dengan penyakit menular seksual sulit dilakukan," terang peneliti Jamie Luster peneliti dari University of Michigan, Ann Arbor.

Hasil penelitian ini juga mempertimbangkan faktor lain yang berhubungan dengan risiko penyakit menular seksual. Faktor yang menjadi pertimbangan termasuk frekuensi seksual, pendapatan, ras, dan usia.

"Perhatian secara khusus terjadi adalah bahwa penelitian terdahulu tidak memperhitungkan frekuensi seksual," terang Maria Gallo, profesor epidemiologi dari Ohio State University.

"Hasil temuan ini tidak mengejutkan karena tidak terdapat alasan biologis yang jelas bahwa mencukur atau waxing bulu kemaluan ini bisa meningkatkan risiko klamidia dan gonorea," jelas Luster. 


Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...