Alasan Sakit Dirut PMR Diizinkan Keluar Penjara 

Kamis,10 Januari 2019 - 18:14:03 WIB Di Baca : 565 Kali

Riauaktual.com - Beralasan sakit, pihak Majelis Hakim yang memimpin sidang dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD Arifin Achmad, akhirnya mengizinkan Direktur CV Prima Mustika Raya (PMR), Yuni Efrianti SKp, izin berobat. 

Karena telah diizinkan, maka Yuni diberi izin keluar penjara untuk berobat di rumah sakit.

Saat mengikuti persidangan, tampak terlihat pucat menahan sakit. Bahkan, dia terlihat menggigil dan tidak lagi sanggup mengikuti persidangan dengan agenda eksepsi atau keberatan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, pada Rabu (9/1/2019) kemarin.

Loading...

Yuni diizinkan keluar penjara, karena beberapa kali dia terlihat menahan rasa mual. Bahkan, yang bersangkutan terlihat mengeluarkan kantong plastik yang dibawanya untuk menampung muntah.

Rasa iba pun menghinggapi penasehat hukum Yuni, sehingga langsung mengajukan permohonan lisan kepada majelis hakim untuk mengizinkan kliennya berobat. 

Hingga akhirnya, setelah berkoordinasi, majelis hakim akhirnya mengabulkan permohonan tersebut. 

''Kami berikan izin kepada saudari Yuni untuk berobat di rumah sakit. Silahkan berobat,'' kata ketua majelis hakim, Saut Martua Pasaribu, didampingi hakim anggota Asep Koswara dan Hendri.

Izin diberikan oleh Majelis hakim kepada Yuni untuk keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan dan Anak, pada Kamis (10/1/2019) dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. 

Selanjutnya, Yuni akan menjalani perawatan di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru. ''Kami persilahkan yang bersangkutan menjalani perawatan di Rumah Sakit Awal Bros. Nanti, jika sudah selesai, silahkan kembali lagi ke Rutan,'' kata Saut.

Setelah diizinkan, maka Saut meminta bantuan kepada petugas Kejaksaan Negeri Pekanbaru untuk membawa Yuni keluar dari ruang sidang. Selanjutnya, Yuni pun dipapah dengan kondisi tertatih menahan sakit. 

Diketahui, keterlibatan CV PMR dalam kasus ini. Dikarenakan perusahaan itu ikut terlibat membuat Formulir Instruksi Pemberian Obat (FIPO) dengan mencantumkan harga yang tidak sesuai dengan harga pembelian sebenarnya dalam pengadaan alat kesehatan spesialistik Pelayanan Bedah Sentral di staf fungsional RSUD Arifin Achmad. 

Bahkan, pembelian dengan pesanan dan faktur dari CV PMR disetujui instansi farmasi. Selanjutnya dimasukkan ke bagian verifikasi untuk dievaluasi dan bukti diambil Direktur CV PMR, Yuni Efrianti.  Lalu dimasukkan ke Bagian Keuangan.

Setelah disetujui pencairan, bagian keuangan memberi cek pembayaran pada Yuni Efrianti. Pencairan dilakukan Bank BRI, Jalan Arifin Achmad. Setelah itu, Yuni melakukan perincian untuk pembayaran tiga dokter setelah dipotong fee 5 persen. Pembayaran dilakukan kepada dokter dengan dititipkan melalui staf SMF Bedah.

CV PMR diketahui bukan menjual atau distributor alat kesehatan spesialistik yang digunakan ketiga dokter. Kenyataannya, alat tersebut dibeli langsung oleh dokter bersangkutan  ke distributor masing-masing.

Alat kesehatan juga tidak pernah diserahkan CV PMR kepada panitia penerima barang dan bagian penyimpanan barang di RSUD Arifin Achmad sebagaimana ketentuan dalam prosedur tetap pengadaan dan pembayaran obat, gas medis dan alat kesehatan pakai habis BLUD Arifin Achmad.

Selama medio 2013 dan 2013, Direktur CV PMR dibantu stafnya Muklis telah menerbitkan 189 faktur alat kesehatan spesialistik. Harga alat kesehatan yang tercantum dalam faktur berbeda-beda dengan harga pembelian yang dilakukan terdakwa dr Welly Zulfikar, dr Kuswan Ambar Pamungkas dan drg Masrial.

Dari audit penghitungan  kerugian keuangan negara ditemukan adanya kerugian sebesar Rp420.205.222.  Jumlah itu diterima oleh CV PMR dan tiga dokter. (HA)


Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...