10 November. (istimewa)

Ini Akhir Dramatis Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Minggu,11 November 2018 - 05:53:11 WIB Di Baca : 3781 Kali

Riauaktual.com - Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby menjadi alasan Pasukan Inggris untuk menggempur habis-habisan Kota Surabaya. Walau sebenarnya belum jelas, siapa yang membunuh Mallaby.

Tanggal 1 November 1945, 1.500 Marinir Inggris dari Jakarta mendarat di Surabaya. Lalu 3 November, mendarat sekitar 24.000 prajurit dari Divisi ke-5 dari Malaya.

Kedua pasukan ini bukan pasukan sembarangan. Pasukan Marinir Inggris dikenal sebagai pasukan elite. Sementara Divisi ke-5 adalah tentara yang mengalahkan Marsekal Rommel dalam pertempuran di El Alamein. Ditambah lagi sisa pasukan Brigade-49, total pasukan Inggris mencapai 30.000 personel.

Loading...

Inggris juga mengerahkan sejumlah kapal perang untuk membombardir Kota Surabaya dari laut. Mereka juga diperkuat puluhan tank ringan Stuart dan tank berat Sherman. Artileri Inggris mengandalkan meriam 15 pon dan howitzer 15 pound.

Tak cuma itu, 20 pesawat tempur Mosquito dan 12 pesawat pemburu P-4 Thunderbolt yang mengangkut bom 250 kg juga dikerahkan untuk menghajar Surabaya.

Semua kekuatan itu dikerahkan untuk menghadapi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang baru berdiri beberapa hari. Dibantu para laskar bersenjata apa adanya dan rakyat yang cuma bersenjata tajam. Mereka yang rela bertempur habis-habisan karena tak sudi dijajah kembali. Orang-orang yang menolak menyerahkan senjata dan berjalan dengan tangan di atas kepala sebagai tanda takluk pada Inggris.

Ada sekitar 20.000 anggota TKR dan laskar bersenjata. Ditambah sukarelawan rakyat yang mencapai 100.000 orang.

"Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!" teriak Bung Tomo membakar semangat rakyat Surabaya.


1. Mati-matian mempertahankan Surabaya

Merdeka.com - Tanggal 10 November 1945 tepat pukul 06.00 WIB, meriam-meriam kapal perang Inggris di pelabuhan mulai menembakkan meriam-meriamnya. Dari udara, kapal tempur Inggris terus menjatuhkan bom dan membombardir Surabaya dengan senapan mesin. Serangan ini berlangsung dari pagi sampai malam.

Ribuan rakyat tak berdosa ikut jadi korban. Kampung-kampung tak luput dari sasaran bom. Surabaya hancur lebur. Di Pasar Turi saja ratusan orang yang mau berbelanja tewas. Demikian ditulis Batara Hutagalung dalam buku Surabaya 10 November 1945.

Keesokan harinya, pasukan infanteri Inggris merangsek maju dilindungi tank dan tembakan mortir. Mereka menduduki Kampung Semampir dan Kebalen pada pagi harinya.

Residen dan wali kota Surabaya meminta rakyat untuk mengungsi ke luar kota hari itu juga untuk menghindari bertambahnya korban. Tak kurang dari 100.000 rakyat Surabaya meninggalkan kota itu hanya dengan pakaian di badan, tanpa membawa apa-apa.

Pertempuran berlangsung sengit dari jalan ke jalan. Dari rumah ke rumah. Dari satu kubu pertahanan rakyat ke kubu lainnya. Rakyat Surabaya menerjang tank dengan senjata seadanya. Mereka tak takut mati. Sementara TKR dan laskar memberikan perlawanan lebih terorganisir. Tentara Inggris diperas habis-habisan. Inilah pertempuran terberat yang mereka rasakan. Sampai ada istilah neraka di Timur Jawa.

Mayat bergelimpangan di mana-mana. Surabaya dipenuhi ledakan, rentetan tembakan dan asap.

2. Pertempuran terakhir di Gunungsari

Hari demi hari pertempuran terus berlangsung sengit. Pasukan Inggris yang berpengalaman dan terlatih ditambah aneka senjata berat, mulai menunjukkan keunggulan. Mereka bergerak maju mendesak pejuang.

Tanggal 28 November, pertempuran hebat terjadi di daerah Gunungsari. Inilah kubu terakhir pertahanan para pejuang di Surabaya. Sebelumnya Inggris telah menghancurkan depot gudang senjata Jepang di Surabaya yang digunakan para pejuang.

Pasukan Indonesia hanya bisa diusir dari Surabaya setelah pengeboman artileri dan penembakan meriam dari kapal perang secara besar-besaran dan 21 hari pertempuran yang sengit, kata Mayor R.B. Houston, seorang perwira Batalyon Gurkha Rifles ke-10 dalam buku What Happened in Java; History of the 23Division.

Jika dihitung, pertempuran berlangsung lebih dari 28 hari. Padahal Inggris pernah jumawa, yakin akan menaklukkan Surabaya kurang dari tiga hari.

Para pejuang bergerak mundur ke luar kota Surabaya. Membangun basis perlawanan di Sidoarjo, Gresik, dan daerah-daerah sekitarnya. Namun sejumlah gerilyawan terus berada di dalam kota Surabaya, meneror tentara Inggris dengan aksi sporadis dan penembak jitu. Tembak menembak sejatinya tak pernah benar-benar berhenti di Surabaya.

Tak ada angka pasti soal jumlah korban. Diperkirakan 600 lebih prajurit Inggris tewas di sana. Sementara dari pihak Indonesia ada 16.000 rakyat dan pejuang gugur.

3. Inggris dibuat kapok

Walau pejuang dipukul mundur, pertempuran Surabaya memiliki arti penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Aksi melawan pasukan Inggris kemudian terjadi di mana-mana. Pertempuran besar pecah di Bojong Kokosan, Sukabumi, Jawa Barat tanggal 9 Desember 1945. 12-15 Desember Kolonel Soedirman memimpin pasukan mengalahkan tentara Inggris di Ambarawa. Begitu juga aksi Bandung Lautan Api tanggal 23 Maret 1946.

Inggris sadar, tak ada gunanya terus berada di Indonesia. Mereka tak mau terus diperalat Belanda yang membonceng di belakang mereka dengan maksud menguasai kembali Indonesia. Banyak tentara mereka, terutama pasukan Gurkha yang muak harus berperang di Surabaya.

Untuk apa kita di sini, kata mereka tak mengerti.

Tahun 1946, tentara Inggris terakhir meninggalkan Indonesia. Mereka sadar, membiarkan pasukannya tinggal lebih lama ibarat bunuh diri. Nasionalisme Indonesia bukan omong kosong.

 

Sumber : merdeka.com

 

 


Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...