Ilustrasi. Foto: Shutterstock

Dua Jenis Cahaya yang Masuk ke Dalam Kalbu

Jumat, 24 Januari 2020 - 20:28:05 WIB Di Baca : 3913 Kali

Riauaktual.com - TERDAPAT dua jenis cahaya yang mendatangi kalbu dan itu tertulis dalam kitab Al Hikam Al ‘Athaiyyah makalah ke 204 karya Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari.

Cahaya pertama yaitu yang datang hanya sampai kalbu bagian luarnya saja. Kedua, cahaya yang datang sampai masuk ke dalam inti kalbu atau hingga masuk ke dalam lubuk hati.

Ulama kondang KH. Ahmad Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) menjelaskan bahwa kebenaran ilmiah yang hinggap ke dalam kalbu itu ada dua. Jika cahaya itu sampai pada sisi luar kalbu, maka kamu akan memperhatikan Tuhan sekaligus dirimu sendiri, memperhatikan dunia sekaligus akhirat.

Maka orang yang mendapat cahaya hanya sampai luarnya saja mendapati kalbunya kadang bersama dirinya, kadang bersama Allah. Dalam berbuat pun demikian, kadang demi dirinya sendiri, kadang demi Allah. Begitu juga, terkadang melakukan sesuatu itu demi dunia dan terkadang demi akhirat. Gus Baha menyebut orang macam ini memiliki watak yang tidak stabil.

Menurut murid KH Muaimun Zubair (Mbah Moen) ini, jika ilmu tauhid hanya di luar kalbu, maka kamu memperhitungkan Allah sekaligus dirimu sendiri. Memperhitungkan dunia sekaligus akhirat juga.

“Jadi kadang memikirkan dirinya sendiri dan kadang memikirkan agama,” ucapnya, sebagaimana dikutip dari okezone.com.

Sedangkan jika cahaya sudah masuk ke dalam relung kalbu, maka yang ada hanyalah mencintai Allah dan tidak akan melirik siapapun, yang ideal dan benar tentulah cahaya yang benar-benar masuk ke dalam lubuk kalbu hingga relungnya.

kalbu yang tidak ada di sana apa atau siapa pun kecuali Allah. Orang ini tidak mencintai siapa pun kecuali Allah, dan tidak menyembah selain Dia.

Gus Baha mencontohkan, orang yang level cahayanya baru sampai luar saja (dzahir) akan berucap, “aku sedekahkan ke Rukhin karena Allah. Uangku yang kuberikan juga karena Allah SWT. Berarti masih ada “aku” di sana dan “uangku” menandakan masih ada rasa memiliki. Demikian juga dengan kalimat “salatku, puasaku”. Hal tersebut, menurut putra Kiai Nur Salim masih dibenarkan, karena bagaimanapun itu masih cahaya ilahi.

Namun jika cahaya itu sudah merasuk ke dalam kalbu. Ia akan berucap, “Ini uang milik Allah dan kuberikan ke Rukhin karena perintah Allah. Salatku pun itu karena hidayah dari Allah, dan salat ini pun dilakukan demi Allah,” ucap Gus Baha dalam akun YouTube Santri Gayeng.

“Jadi kadang memikirkan dirinya sendiri dan kadang memikirkan agama,” ucapnya.

Sedangkan jika cahaya sudah masuk ke dalam relung kalbu, maka yang ada hanyalah mencintai Allah dan tidak akan melirik siapapun, yang ideal dan benar tentulah cahaya yang benar-benar masuk ke dalam lubuk kalbu hingga relungnya.

kalbu yang tidak ada di sana apa atau siapa pun kecuali Allah. Orang ini tidak mencintai siapa pun kecuali Allah, dan tidak menyembah selain Dia.

Gus Baha mencontohkan, orang yang level cahayanya baru sampai luar saja (dzahir) akan berucap, “aku sedekahkan ke Rukhin karena Allah. Uangku yang kuberikan juga karena Allah SWT. Berarti masih ada “aku” di sana dan “uangku” menandakan masih ada rasa memiliki. Demikian juga dengan kalimat “salatku, puasaku”. Hal tersebut, menurut putra Kiai Nur Salim masih dibenarkan, karena bagaimanapun itu masih cahaya ilahi.

Namun jika cahaya itu sudah merasuk ke dalam kalbu. Ia akan berucap, “Ini uang milik Allah dan kuberikan ke Rukhin karena perintah Allah. Salatku pun itu karena hidayah dari Allah, dan salat ini pun dilakukan demi Allah,” ucap Gus Baha dalam akun YouTube Santri Gayeng.

 

Sumber: okezone.com





Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com