Riau Tidak Terpegaruh Kebijakan Diskriminatif Uni Eropa Soal Sawit

Senin,01 April 2019 - 16:24:58 WIB

ils/ int

Riauaktual.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa kebijakan Uni Eropa terkait industri kelapa sawit tidak berpengaruh secara signifikan di Provinsi Riau. Walau Riau merupakan wilayah paling luas secara nasional kebun kepala sawit.

Kepala BPS Provinsi Riau, Aden Gultom menegaskan bahwa sejauh ini ekspor CPO (crude pulp oil) dari Riau masih normal. Dia menegaskan tidak terpengaruhnya karena Uni Eropa bukan tujuan utama ekpor.

"Tujuan utama ekspor indutri kelapa sawit Riau  adalah Tiongkok dan India. Uni Eropa hanya sedikit saja. Jadi tidak begitu pengaruh kebijakan Uni Eropa soal sawit," kata Aden Senin (1/4/2019).

Namun demikian, industri di sektor kelapa sawit di Riau harus tetap waspada. Mengingat saat ini, Tiongkok mewacanakan akan menggunakan bahan alternatif lain dari minyak nabati. Jika ini terjadi, ekspor kelapa Riau Riau akan terganggu.

"Tiongkok sedang mewacanakan minyak nabati dari bunga matahari. Jika ini jadi diproduksi secara massal, tentu mengancam ekspor kelapa sawit kita," ucapnya.  

Selain itu, Riau belakangan juga mengalami kendala ekspor kelapa sawit di India. Mengingat ada kebijkanan Pemerintah India untuk industri sawit.

"Ada sejumlah kebijakan sawit oleh India yang mendiskriminasikan sawit kita. Ini berbeda dengan industri sawit milik Malaysia yang sangat dipermudah masuk ke India," tegasnya.

Belakangan ini, Uni Eropa melakukan penetapan standard ganda untuk mendiskriminasi kelapa sawit sebagai minyak nabati. Dimana negara negara berupaya melakukan proteksi terselubung untuk melindungi produk minyak nabati mereka yang daya saing dan produktifitasnya jauh lebih rendah dari minyak kelapa sawit.

"Secara Nasional, kebijakan Uni Eropa, berpengaruh, namun khusus untuk Riau tidak berpengaruh kebijakan Uni Eropa itu,"imbuhnya.

Secara umum, Aden menjelaskan nilai ekspor Riau berdasarkan harga Free On Board (FOB) pada bulan Februari 2019 mencapai US$ 927.48 juta atau mengalami penurunan sebesar 6,21 persen dibanding ekspor bulan Januari 2019 sebesar US$ 988.86 juta. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya ekspor non migas sebesar 9,92 persen. 

Sedangkan ekspor migas naik sebesar 79,71 persen. Ekspor non migas dari US$ 947.93 juta pada bulan Januari 2019 turun menjadi US$ 853.92 juta pada bulan Februari 2019, sebaliknya ekspor migas dari US$ 40.93 juta pada bulan Januari 2019 naik menjadi US$ 73.56 juta pada bulan Februari 2019.

"Selama Januari-Februari 2019, nilai ekspor Riau mengalami penurunan sebesar 29,65 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang disebabkan oleh turunnyaekspor migas dan non migas masing-masing sebesar 74,71 persen dan 20,67 persen. Penurunan ekspor migas disebabkan oleh turunnya ekspor minyak mentah sebesar 84,03 persen dan eksporindustri pengolahan hasil minyak sebesar 5,91 persen," tuturnya

Dia menegaskan, pada periode Januari-Februari 2019, ekspor non migas ke sepuluh negara tujuan utama memberikan kontribusi sebesar 67,04 persen terhadap total nilai ekspor non migas Riau. Dari sepuluh negara tujuan utama, lima diantaranya memberikan kontribusi terbesar.

"Lima negara itu adalah India US$ 270.84 juta (15,03 persen), selanjutnya Tiongkok US$ 248.56 juta (13,79 persen), Belanda US$144.41 juta (8,01 persen), Pakistan US$ 102.80 juta (5,70 persen), dan Malaysia US$ 101.25 juta (5,62 persen), dengan kontribusi kelimanya mencapai 48,16," tukasnya. (Nat)