ilustrasi

Mardianto Manan: 'Pasar Cik Puan Mencari Tuan'

Jumat,05 Desember 2014 - 17:18:02 WIB | Di Baca : 39346 Kali

PEKANBARU (RA)- Tersendatnya pembangunan Pasar Cik Puan, dikarenakan pasar tersebut tidak jelas keabsahan aset siapa, Pemerintah Kota Pekanbaru kah, atau Pemerintah Provinsi Riau. Sehingga, pasar yang pernah menjadi ikon Kota Pekanbaru ini kondisinya bias tidak jelas.

"Pasar Cik Puan dua tahun dulu sudah dianggarkan oleh Herman Abdullah, tahun ketiga salah katanya (Pemprov Riau) apa begitu, Herman itu orang pamong murni, dia paham bagaimana musrembang yang benar, bagaimana menganggarkan duit yang benar, kok tahun ketiga dianggap salah," ungkap Pengamat Perkotaan Mardianto Manan, baru-baru ini.

Karena tidak jelasnya status kelanjutan pembangunan pasar tradisional tersebut yang telah menghabiskan APBD Kota Pekanbaru Rp20 miliar, Mardianto menyebut bahwa Pasar Cik Puan saat ini tengah mencari tuan. Karena beberapa waktu lalu ada wacana Pemerintah Kota Pekanbaru untuk melanjutkan pembangunan dengan melibatkan investor, namun itu wacana yang belum ada buktinya, yang ada bangunan Pasar Cik Puan semakin berlumut karena terbengkalai.

"Kita masih butuh pasar tradisional. Karena memiliki pangsa pasar tersendiri, bisa menawar. Nomenklatur pasar modern dengan tradisional berbeda. Pasar tradisional ini untuk menengah ke bawah dan penduduk Kota Pekanbaru ini lebih banyak menengah ke bawah," ujar Mardianto.

Akibat tidak terakomodirnya keberadaan pasar tradisional, maka saat ini Kota Pekanbaru dilanda semrawutnya pasar kaget alias pasar dadakan. "Menjamurnya pasar kaget karena menjamurnya pasar modern. Kalau pasar tradisional tidak diakomodir dalam perencanaan runag Kota pekanbaru, saya takut nanti melimpah pasar kaget, realita sudah terjadi sekarang, ada indikasi menjamurnya pasar kaget ini karena pasar modern sudah menjamur juga," papar Mardianto.

Ditambahkan Mardianto yang saat ini menjadi tim ahli Panitia Khusus DPRD Kota Pekanbaru yang membahas Rencana Peraturan Daerah Pasar Rakyat, Pasar Modern, dan Swalayan, bahwa melimpahnya pasar kaget bisa disebabkan karena pasar tradisional sudah dimodernkan semua.

"Kalau dianalisa lebih dalam secara akademik, itu menjadi temuan. Pasar tradisional harus diakomodir, kedepan dimana saja tempatnya harus ada pasar tradisional," pungkasnya.

 

Laporan : riki

Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com