HOT TOPIC

Dewan Pekanbaru Ingatkan Pedagang Cik Puan yang Bangun Kios Permanen

Dibaca: 75053 kali  Senin,25 Februari 2013 | 09:11:00 WIB
Dewan Pekanbaru Ingatkan Pedagang Cik Puan  yang Bangun Kios Permanen Ket Foto : Bangunan Asar Cik Puan Pekanbaru masih Terbengkalai. FOTO: int

PEKANBARU (RA) - Pasca terbakarnya kios tempat penampungan sementara pedagang Pasar Cik Puan Pekanbaru, saat ini pedagang kembali mendirikan kios. Kali ini pedagang mendirikan kios permanen yang dibuat dengan menggunakan semen dan batu bata, berbeda dengan yang sebelumnya yang hanya dengan dinding kayu dan tenda biru saja. Hal ini dilakukan guna menghindari terjadinya kebakaran di kios tersebut.

Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Komisi II DPRD Pekanbaru Syamsul Bahri S Sos mengatakan, kepada pedagang Pasar Cik Puan yang mendirikan kios permanen agar melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Pemerintah Kota Pekanbaru.

"Agar nantinya ketika kios permanen ini selesai dibangun tak ada persoalan dengan Pemko Pekanbaru. Kita takutkan kalau ternyata pedagang membangun kios permanen ini tak ada koordinasi, nanti mereka juga yang rugi ketika Pemko Pekanbaru melanjutkan pembangunan gedung pasar, ternyata kios itu mengganggu maka harus dibongkar lagi, ini yang memang harus dihindari," demikian dikatakan Samsyul ketika dikonfirmasi RiauAktual.com di gedung DPRD Pekanbaru, Senin (25/02/2013).

Politisi Partai Demokrat ini juga menyampaikan, agar pedagang tidak gegabah dalam mengambil sikap. Meskipun langkah yang diambil pedagang dengan membangun kios sendiri yang permanen merupakan dampak dari ketakutan terjadi lagi kebakaran, namun pedagang meski berpikir positif juga akan kelanjutan pembangunan Pasar Cik Puan yang saat ini terbengkalai.

"Kita tak ingin konflik antara pedagang dengan pemerintah terjadi lagi. Maka dari itu kita menghimbau kepada pedagang sebelum mendirikan kios permanen ini, lakukan koordinasi terlebih dahulu agar tidak salah langkah," paparnya lagi.

Laporan: Riki


Akses RiauAktual.Com Via Mobile m.riauaktual.com

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

comments powered by Disqus
shadow