Ingin Tampil Beda, Remaja Pontiakan Membuat Kaos 'Ikeh' yang Berujung Petaka!

Rabu,27 September 2017 - 00:22:07 WIB Di Baca : 3124 Kali

Riauaktual.com - Postingan sebuah foto memperlihatkan setidaknya empat remaja mengenakan kaos hitam bergambar tak senonoh, sempat menggemparkan dunia maya khususnya grup Facebook Pontianak, Senin (25/9/2017).

Mereka sedang berjalan kaki di area Car Free Day (CFD) trotoar di Jalan Ahmad Yani Pontianak.

Setelah foto ini viral, mereka yang menamakan kelompoknya Ikeh 69 mengungkap berbagai fakta.

Berikut kami rangkum:

Sebut saja Bunga, satu di antara anak yang menggunakan baju kaus bergambar pornografi bertuliskan Ikeh 69 saat Car Free Day, mengaku tidak tahu makna baju dan tulisan. Namun, menurutnya semua orang pasti tahu.

"Kami dapat baju itu, kami buat sablon, awalnya kami gak tahu arti Ikeh itu, dan kami dapat gambar itu dari saran orang sablon. Memang sih kami yang minta karena ingin beda dari yang lainlah ya. Nama juga anak-anak ingin keren sendiri terlihat beda bajunya," kata Bunga, Senin (25/09/2017) malam.

"Kalau dibilang makna tidak tahu, tapi kalau gambar itu pasti semua orang tahulah," terangnya.

Mengambil gambar itu, kata dia, awalnya asli gambar orang, tapi animation, karena orang tidak ada jadi ia pun membuat.

"Kalau gambar ya tahu, tapi maksudnya tidak tahulah, harganya Rp 60 ribu per baju, Kami tidak langsung buatnya. Tapi satu-satu di daerah Kota Baru," katanya.

Ia mengatakan, menggunakan langsung dari rumah, tidak menggunakan jaket.

"Ada anggota pun acuh tak acuh jak. Kan ada pak polisi jaga pagi-pagi di CFD. Saat itu berempat yang menggunakan," katanya.

Ia pun mengaku menyesal dan malu akibat kejadian dan perbuatan ini.

"Menyesal ya pasti menyesal malu juga. Kasihan juga dengan orangtua, tapi bagaimanalah terlanjur dan bubur dah jadi nasi bisa minta maaf jak," ujarnya.

Ia mengatakan, saat viral, temannya ada koyakkan bajunya di rumah, karena takut. Teman, kata dia adalah kenal biasa, karena juga saudara teman dan adik.

"Saya mewakili dari gruplah ya, 69 mengucapkan penyesalan yang amat sangat, minta maaf juga pada Pak Wali Kota telah mencemarkan nama Kota Pontianak, kami sangat menyesal," katanya.

Namun saat ditanya menamai grup, ia pun menepis.

"Itu tu bukan grup, tapi jika dilihat ramai disebut grup. Tapi kami bukan grup, dan tidak ada grup, berkumpul itu pun di rumah saya," tukasnya.

Orangtua Minta Maaf

Satu di antara orangtua dalam kelompok Ikeh 69 yang viral di Facebook, Gusti Muhammad Iqbal meminta maaf kepada seluruh masyarakat akibat perbuatan anaknya yang membuat heboh jagat maya Pontianak.

"Saya sangat menyesali masalah ini, saya juga tidak tahu masalah anak-anak ini Tadinya tau berita ada teman membicarakan dan saya konfirmasi panggil anaknya," ujarnya, Senin (25/09/2017) saat ditemui di Sekreteriat MABT Kubu Raya.

Ia mengatakan, bedasarkan pengakuan anaknya juga tidak tahu, jadi pas mengerti saat ada yang mengancam lapor ke Polisi, karena ketakutan anaknya maka ia mengklarifikasi.

"Saya sebagai orangtua, minta maaf sebesar-besarnya mungkin ada kesalahan, dan saya juga sebagai orangtua. Walaupun selama ini sudah cukup, ternyata masih kurang. Jadi mohon maaf, saya jamin anak saya tidak melakukan hal seperti itu. Karena ketidakmengertian mereka seperti ini," katanya.

Ia mengatakan, anaknya sempat menangis minta maaf minta ampun, maka dari itu Ia berpesan jangan sekali-kali tidak mengerti diikuti.

"Sebagai orangtua saya minta maaf atas kejadian ini yang tidak mengenakan masyarakat Kalbar khususnya dan Indonesia umumnya. Dan hal ini akan saya bina terus dan perhatikan anak saya. Saya rasa cukuplah pembelajaran bagi dia dan terpukul berat anak-anak," katanya.

Untuk masalah baju, ia mengaku belum sampai menanyai, karena pada nangis semua dan terpojok.

Ia pun mengatakan, baju ada yang dikoyak dan ada juga disimpan.

"Jangan sampai merusak mental mereka bagaimana-bagaimana. Saya akan selalu mengawasi anak saya dengan adanya kejadian ini, saya tidak mau kecolongan lagi, akan dilihat bagaiman perkembangannya, berteman dan lainnya, akan saya awasi terus. Takut akan memperburuk masa depan mereka, bimbingan juga akan diberikan. Dan akan perbanyak ekstrakurikuler mereka yang baik-baik," ujarnya.

Sutarmidji Berang!

 

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berang adanya sekelompok remaja yang berani terang-terangan memakai baju bergambar pornografi di area CFD.

Bahkan ia mengatakan pihaknya akan mencari tahu anak yang memakai kaus tersebut.

Menurut Midji apa yang mereka pakai tersebut sudah menjurus pada pornografi.

Kata Psikolog

Psikolog Klinis RSJD Sungai Bangkong,Pontianak, Kalimantan Barat, Patricia Elfira Vinny mengatakan, apa yang dilakukan remaja dengan baju bergambar siluet hubungan seks biasanya terjadi karena minat yang sama atau hanya ikut-ikutan.

Hal ini, menurutnya termasuk dalam masalah perilaku. Bukan masalah kejiwaan.

"Kalau masalah perilaku emosi dan kognitif, disertai disorientasi dapat dikatakan masalah kejiwaan. Kalau ini bisa dikatakan masalah perilaku," katanya, Senin (25/9/2017).

Outputnya, mereka mendapatkan perhatian dari orang sekitar.

Semakin orang lain menaruh perhatian, disitulah mereka mendapatkan kepuasan.

Penanggulangan yang baik, menurutnya, terletak pada orangtua.

"Seharusnya dari orangtua sudah memberikan nasehat atau masukan positif kepada anak. Jika orangtua tidak mampu atau kewalahan, pihak berwajib dapat melakukan pembinaan kepada anak anak tersebut. Selanjutnya kembali diserahkan kepada orangtua atau keluarga terdekat anak," sarannya.

Psikolog Endah Fitriani mengatakan, masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa yang memiliki beragam perkembangan di semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa.

Rentang usia remaja, antara 12 hingga 15 tahun disebut masa awal. Kemudian usia 15 hingga 18 masa pertengahan dan usia 18 hingga 21 masa akhir.

"Usia remaja usia pencarian jati diri, senang bereksplor dan selalu ingin diakui di lingkungan atau di kelompoknya," ungkapnya.

Apalagi jika remaja pasif tidak ada teman dan lainnya, dia mencari atau mencoba dengan berbagai macam cara.

"Bisa seperti gambar di atas, karena butuh diakui, diperhatikan. Lama-lama bisa akan menjadi gangguan kepribadian jika dirinya tidak bisa megendalikan dari segi emosi, pikiran dan perasaannya," jelas Endah.

Terlebih jika lingkungan tidak bisa membuat dia keluar dari zona yang seharusnya, karena masa remaja juga masa ketergantungan.

Menanggulangi hal itu, perlu ada pandekatan dengan remaja-remaja tersebut.

Bisa dibuat kelompok yang mana isinya bisa membuatnya melakukan hal positif.

Juga lebih bnyak memberikan penglaman-pengalaman positif atau ikut terjun langsung ke kegiatan yang positif.

"Untuk keluarga, komunikasi dibuka lagi,. Seharusnya remaja itu dekat dengan orangtua akan tetapi dengan berbagai macam alasan justru remaja dekat dengan teman sebayanya. Jika teman sebaya baik, tidak akan menjadi masalah. Tapi bagaimana jika tidak?," urainya.

"Kondisikan bagaimana orangtua bisa menjadi teman, sahabat untuk anak. Bukan justru menjadi musuh untuk anak," katanya.


Sumber : planet.merdeka.com

Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...