Bocah berusia 11 tahun asal Indonesia, Hatf Saiful Rasul. (internet)

Polisi Sebut Ayah Bocah Petarung ISIS Merupakan Teroris Poso

Kamis,14 September 2017 - 00:17:20 WIB | Di Baca : 1815 Kali

Riauaktual.com - Bocah berusia 11 tahun asal Indonesia, Hatf Saiful Rasul, disebut tewas sebagai militan ISIS di Suriah. Polisi menyebut ayahnya, Syaiful Anam alias Mujadid alias Brekele, sebagai teroris Poso.

"Benar itu," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul, di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (13/9/2017).

Martinus menyebut Brekele sebagai terdakwa pengeboman Pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Syaiful Anam alias Mujadid alias Brekele, divonis 18 tahun penjara. Saat ini Brekele ada di penjara.

"Sekarang kan di lapas," kata Martinus.

Sebelumnya dilansir Reuters, Minggu (10/9/2017), awalnya Hatf mengunjungi ayahnya bernama Syaiful Anam di penjara berpengamanan tingggi. Hatf menjenguk ayahnya saat Pondok Pesantren tempatnya menimba ilmu sedang libur, Pondok Pesantren itu berada di kawasan Bogor. Syaiful Anam menceritakan soal ini dalam esai 12 ribu kata, diunggah secara daring.

"Pertama, saya tidak menanggapi dan mempertimbangkan itu sebagai guyonan anak kecil," tulisnya. "Namun ini menjadi berbeda ketika Hatf menyatakan keinginannya terus-menerus," kata dia.

Hatf memberi tahu ayahnya bahwa teman-teman dan guru-guru dari Ponpes telah pergi berperang untuk ISIS dan "menjadi martir di sana". Anam setuju melepasnya pergi ke medan perang. Dia mengatakan sekolah tempat Hatf belajar dikelola oleh "kawan-kawan seperjuangan yang menyebarkan ideologi kami".

Hatf kemudian pergi ke Suriah dengan kelompoknya pada 2015. Dia bergabung dengan kelompok petarung dari Prancis. Reuters berbicara kepada tiga pejabat antiterorisme Indonesia yang mengkonfirmasi kebenaran kabar ini.

Hatf adalah satu dari 12 orang dari Ponpes di Bogor itu yang pergi ke Timur Tengah untuk menjadi petarung ISIS. Terdiri dari delapan orang guru dan empat orang adalah pelajar. 18 Orang terkait Ponpes itu telah didakwa bersalah atau dalam penahanan terkait kasus penyerangan di Indonesia.

Ponpes yang disebutkan mengirim militan ISIS itu adalah Ponpes Ibnu Mas'ud. Juru bicara Ibnu Mas'ud, Jumadi, membantah sekolahnya mendukung ISIS atau mendukung kelompok militan lainnya, atau mengajarkan pemahaman ekstrem penuh kekerasan tentang Islam.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan Ibnu Mas'ud bukanlah pesantren yang teregistrasi. Pemerintahan daerah, Amin menambahkan, telah meminta penjelasan soal status ini.


Sumber : detik.com

Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com