Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia

N219 dan Kebangkitan Pesawat Buatan Indonesia

Minggu,13 Agustus 2017 - 06:56:42 WIB Di Baca : 4326 Kali

Riauaktual.com - Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini bakal terasa lebih spesial. Semangat kemerdekaan dan kemandirian terwakili pada produk pesawat terbang buatan anak bangsa. Sebelum 17 Agustus 2017, 'burung besi' buatan anak bangsa, N219 akan menjalani uji terbang atau terbang perdana.

Pembuat pesawat N219, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang dibiayai Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadwalkan serangkaian uji coba agar adik dari pesawat Gatotkaca N250 itu bisa terbang mulus sebelum HUT RI ke-72.

Serangkaian uji pesawat N219 yang dijalani yaitu uji kecepatan tinggi dan mengangkat roda depan, yang sudah lancar dilakukan. Pada Jumat 11 Agustus 2017, pesawat N219 itu menjalani uji hoping, uji mengangkat terbang rendah, terus mendarat lagi. Setelah uji hoping, PT DI akan menjalani uji terbang.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, sebelum menjalani terbang perdana, pesawat N219 harus mengantongi izin dari Kementerian Perhubungan sebagai otoritas penerbangan di Tanah Air. Thomas mengatakan, izin tersebut sudah ada, namun tinggal menunggu tahapan akhir dari Kemenhub.

"Tinggal menunggu kesiapan Tim Dirjen Perhubungan Udara untuk memverifikasi uji terbang," katanya, Kamis 10 Agustus 2017.

Pesawat N219 merupakan pesawat angkut ringan yang memiliki kemampuan dapat beroperasi di daerah penerbangan perintis, daerah terpencil atau pedalaman yang bandaranya tak terlalu panjang.

Pesawat N219 diharapkan mampu menjawab kebutuhan yang melayani operasional bandara perintis dan optimis mampu menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya.

Selain pesawat N219, Indonesia juga menunggu akhir panjang dari pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, R80.

Pesawat buatan Ilthabi Rekatama, PT Eagle Capital bersama PT DI itu memang masih ditargetkan beredar di langit nusantara pada 2023, sebab purwarupa R80 akan dimulai 2018 dan rampung 2021. Seperti halnya pesawat N219, pembuatan pesawat R80 yang dikawal oleh Ilham Habibie ini mempunyai semangat untuk meneruskan peluang emas kemandirian industri dirgantara Indonesia sejak 1995.

Pada 22 tahun lalu, Indonesia sudah menapaki jalur tinggal landas untuk membangun kemandirian industri pesawat dalam negeri dengan keberhasilan uji terbang pesawat N250. Namun akhirnya akibat krisis ekonomi 1997, proyek ini dipaksa berhenti.

Kemajuan dari N219 dan R80 disambut gembira disertai harapan tinggi pemangku kepentingan industri penerbangan dalam negeri.

Mantan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana, yakin N219 bisa mulus terbang di langit Indonesia. Sebab pesawat ini memang dihadirkan khusus sesuai dengan karakter wilayah Indonesia.

"Pesawat N219 ini memang dirancang dan dibuat dengan teliti oleh anak bangsa sehingga sesuai dan cocok untuk keperluan transportasi antar pulau dan pedalaman di Indonesia," jelas Andi yang kini menjabat Tenaga Ahli Bidang Pengembangan Pesawat Terbang PT DI sebagaimana dikytip dari VIVA.co.id, Ahad 13 Agustus 2017.

Dia berharap, N219 sesuai yang diinginkan bisa menopang dan menghubungkan antar daerah di Indonesia. Di luar itu, pesawat ini bisa membuat penduduk pedalaman bisa terakses dengan dunia luar tak seperti sebelumnya.

Pesawat anak bangsa tersebut layaknya oase di tengah mati surinya industri penerbangan Tanah Air sejak 19 tahun terakhir. Mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menuturkan, pesawat R80 momen kebangkitan industri. Untuk itu dia berharap R80 didukung penuh pemerintah.

Sebab pembangunan pesawat regional penumpang ini butuh dana paling tidak US$600-700 juta. Dana itu dipakai mulai dari engineering, purwarupa, dan pengujian pesawat terbang baik di darat maupun udara. Ia pun mendukung pembuatan R80 sehingga bisa bersaing dengan beberapa negara yang masih membuat pesawat jenis serupa.

IMF penjegal Indonesia

Jusman menuturkan, hadirnya R80 jangan sampai mengulang kisah getir N250, yang dihentikan paksa oleh Dana Moneter Internasional atau IMF. Jusman yang merupakan bagian dari tim pengembangan N250 merasa IMF adalah biang dari mati surinya industri penerbangan Tanah Air.

Sebab, di dalam nota kesepakatan (letter of intent) yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 15 Januari 1998, pemerintah/APBN dilarang menggelontorkan dana seperak pun untuk IPTN (sekarang PTDI). Fase buruk ini terjadi hampir tiga tahun setelah N250 berhasil terbang perdana. Kala itu, N250 membutuhkan jam terbang minimal 2.000 jam untuk mendapatkan sertifikat Federal Aviation Administration (FAA) dari Amerika Serikat.

"Pesawat N-250 sudah punya 800 jam terbang. Dijegal IMF, semuanya berantakan," ungkap Jusman, yang merupakan salah satu dari Empat Sekawan pengembang N250.

Ia juga menyatakan, industri penerbangan nasional kala itu sudah siap menjadi system integrator. Dalam industri penerbangan ada yang namanya system integrator dan second layer. Untuk system integrator, artinya, industri penerbangan mampu menghasilkan pesawat terbang secara utuh. Adapun, second layer, artinya, memproduksi komponen pesawat terbang.

Pada saat sukses N250, Jusman menuturkan, Indonesia mampu menjadi system interogator. Indonesia bisa bersanding dengan Airbus dan Boeing, bisa membuat uji coba dan ekspor pesawat terbang.

Tapi sayang, datangnya krisis moneter 1998 dan IMF membuat kekuatan industri limbung, terus ambruk.

"Kita mati suri di system integrator akibat krisis tahun 1998 dan perjanjian dengan IMF. Second layer kita tidak. Indonesia dipercaya membuat komponen pesawat A380," papar dia.

Kekuatan asing yang menghantui upaya kemandirian industri penerbangan Indonesia diyakini masih tetap ada. Andi mengatakan, gangguan tersebut konsekuensi dari kompetisi dalam industri pesawat.

"Diganggu asing pasti, karena memang persaingan bisnis," ujarnya.

Namun Andi yakin, N219 bakal berjaya dari persaingan pesawat asing. Sebab pesawat buatan luar negeri dirancang untuk situasi dan kondisi negara masing-masing. Sedangkan N219 punya kelebihan dibanding pesawat luar, yakni dirancang khusus untuk kondisi di Indonesia.

Pesawat Gatotkaca N250

Keyakinan Andi bukan hanya soal konfigurasi N219. Secara industri, menurutnya PT DI sudah dalam posisi sebagai system integrator bahkan sudah sering disebut lead integrator. Artinya PT DI sudah bisa menjadi andalan untuk membuat pesawat sendiri.

Masalahnya, industri penerbangan dalam negeri masih kurang kuat dari sisi second layer. Pada sektor ini masih banyak industri komponen asing. Dia berharap industri dengan dukungan pemerintah bisa mengurangi ketergantungan asing dalam second layer.

"Secara bertahap harus kita bisa ganti dengan industri komponen dalam negeri, ini tidak mudah," ujarnya.

Dari perintis ke jet tempur

Memang dalam soal struktur komponen lokal pesawat N219, PT DI masih berupaya meningkatkan kandungannya. Saat menjalani uji coba, komponen lokal N219 masih 40 persen, tapi nantinya usai lolos sertifikasi kandungan lokalnya ditingkatkan menjadi 60 persen.

Komposisi kandungan lokal itu, menurut Manager Hukum dan Humas PT DI, Irland Budiman sudah menunjukkan tekad kemandirian bangsa. Terlebih desain pesawat N219 dilahirkan oleh anak bangsa.

Irland mengatakan, memang untuk membuat pesawat secara mandiri dengan semua bahan lokal tidak memungkinkan. Sebab ada beberapa komponen yang tidak bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri, misalnya mesin pesawat dan kokpit. Bahkan Irland menuturkan, pemain industri penerbangan dunia, Airbus dan Boeing pun tidak bisa 100 persen menggunakan bahan pesawatnya dari produksi mereka. Airbus dan Boeing masih harus mengimpor mesin pesawat dari produsen seperti Rolls-Royce, Honeywell dan lainnya.  

Komponen lokal masih kisaran 40 persen, tapi hadirnya pesawat N219 menjadi pembuktian badan usaha milik negara itu masih mampu untuk membuat pesawat dari nol sampai 100 persen siap dipakai. Lebih membanggakan lagi, semua yang terlibat dalam pengembangan pesawat 19 penumpang itu tak satu pun menggunakan tangan ahli asing. Semuanya tenaga merupakan anak bangsa.

"N219 sedang ditunggu banyak orang. Ini pembuktian PT DI jelas masih ada (eksistensinya). Mampu membuat pesawat dari nol sampai jadi. Dari mulai desain kita yang buat, itu sudah jadi enggak harus tergantung dengan luar," ujar Irland.

Dia menuturkan, kemampuan sumber daya manusia Indonesia lebih dari sekadar membuat pesawat perintis. Setelah dijegal IMF dengan proyek N250, PT DI membuktikan kemampuannya dengan mampu memproduksi pesawat militer untuk dalam dan luar negeri serta pesawat untuk konsumen kalangan pemerintahan dalam dan luar negeri pula.

Beberapa karya PT DI di antaranya produksi pesawat CN235 bekerja sama dengan CASA Spanyol, CN295 dan NC212i bekerja sama dengan Airbus Defence and Space (ADS), helikoper BELL412EP, BELL412EPI bekerja sama dengan Bell Helicopters Textron Inc, serta lainnya. Semua berhasil dibuat.

Secara jumlah unit, sejak 1976-2017, PT DI sudah mampu mengirimkan pesanan 407 unit untuk pesawat terbang dan helikopter.

Pesawat CN235 dan NC212 sudah laku ke berbagai belahan dunia. Secara jumlah unit, PT DI sudah mengirimkan 64 unit CN235 dan 105 unit NC212. Secara sebaran pengguna CN235 yaitu Venezuela, Senegal, Guinea Conakry, Burkina Faso, Uni Emirat Arab, Turki, Pakistan, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Korea Selatan. Sedangkan untuk NC212 sudah dipakai Vietnam, Filipina dan Indonesia.  

Untuk membuat pesawat jet, anak bangsa yang ada di PT DI punya kemampuan untuk itu. Namun, Irland mengatakan, memang perusahaan pembuat pesawat bermarkas di Bandung itu memilih untuk mengembangkan pesawat yang pasarnya masih memungkinkan dan setidaknya bersaing dengan produsen pesawat raksasa. Airbus dan Boeing merupakan raja pada segmen pesawat jet.

PT DI memang belajar dari persaingan segmen pasar N250 pada era 1990-an lalu. Kala itu pada segmen N250 juga bersaing dengan Airbus dan Boeing.

"Kalau N219, pasarnya sudah enggak banyak pembuatnya. Kalaupun ada hanya ada sekelas kita, tapi memakai teknologi udah lama dan harganya lebih mahal," ujar Irland.

PT DI memang yakin dengan N219. Sebab sudah banyak perusahaan dan entitas lembaga yang antre untuk memanfaatkannya. Irland mengatakan, sejauh nota kesepahaman, sudah ada 200-an unit N219 yang sudah dipesan berbagai maskapai.

Pesawat NC212

Irland bicara kemungkinan ke depan N219 bakal diminati oleh negara lain. Jika itu terjadi, PT DI kemungkinan terbuka untuk transfer teknologi dan memberikan lisensi pembuatan N219, agar bisa diproduksi di lokasi negara peminatnya.

"Kita buat juga bakal membuat inovasi lain dengan pesawat nanti bisa take off darat dan air,” jelasnya.

Setelah matang pada segmen pesawat perintis dengan N219, PT DI selanjutnya akan bertahap untuk membuat pesawat dengan kapasitas di atas 50 penumpang dengan konsep N245. Dalam rencana PT DI, juga akan mengembangkan jet tempur dengan menggandeng Korea Selatan. Pesawat tempur ini bakal punya bernama KF-X/IF-X atau Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment.

 

 

 

Sumber : viva.co.id

Share Tweet Google + Cetak

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com



Loading...