HOT TOPIC

Perampok di Pulomas, tak setenar para bandit legendaris ini

Dibaca: 17048 kali  Jumat,30 Desember 2016 | 00:12:36 WIB
Perampok di Pulomas, tak setenar para bandit legendaris ini Ket Foto : Kusni Kasdut (istimewa)

NASIONAL (RA) - Ramlan Butar Butar yang diduga sebagai kepala kelompok perampok “Korea Utara” yang menyebabkan tewasnya enam orang di rumah Dodi Triono di Pulomas, Jakarta, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian adalah pemain lama.

Saat menjabat Kasat Serse Polda Metro Jaya, Tito mengaku sudah mengenal kelompok Ramlan. "Itu zaman kita dulu, dan sekarang main lagi. Itu sudah tua,” kata Tito, di Mabes Polri.

Tapi sebagai perampok, nama Ramlan baru terdengar setelah polisi menembaknya kemarin di rumah kontrakan di Rawa Lumbu, Bekasi. Itu berbeda dengan para perampok yang pernah ada yang namanya terkenal karena aksi-aksi mereka, jauh sebelum dibekuk oleh polisi.

Kusni Kasdut
Salah satu perampok paling legendaris adalah Kusni Kasdut. Dia adalah eks pejuang kemerdekaan yang kecewa lalu memutuskan menjadi perampok. Kusni terkenal setelah menembak mati Ali Badjened dan menguras hartanya. Tapi yang menembak Ali sebetulnya bukan Kusni, melainkan rekannya yang bernama Muhammad Ali alias Bir Ali. Dia disebut Bir Ali karena doyan menenggak bir.

Aksi perampokan Kusni yang paling fenomenal adalah ketika dia merampok Museum Nasional Jakarta. Peristiwa yang terjadi pada Mei 1961, mirip dengan cerita-cerita film. Kusni menyamar sebagai polisi lengkap dengan pakain dinas, masuk ke museum, menyandera beberapa pengunjung dan menembak mati petugas museum.

Karena aksi-aksinya, Kusni menjadi buron polisi dan selalu lolos setiap kali hendak disergap, hingga tak berkutik ketika digerebek di Semarang, Jawa Tengah. Polisi menembaknya dan dalam persidangan kasusnya, Kusnis dihukum mati. Dia dieksekusi pada sebuah subuh tanggal 16 Februari 1980. Kelompok musik God Bless mengabadikan eksekusi Kusni lewat lagu “Selamat Pagi Indonesia.” Media menyebut Kusni sebagai “Robin Hood” karena pria kelahiran Blitar itu selalu membagi hasil rampokannya kepada warga-warga miskin.

Johny Indo
Sebelum masuk Islam, nama lahirnya adalah Yohanes Herbertus Eijkenboom dan terkenal dengan nama Johny Indo. Johny dan kawan-kawan terkenal  dengan sebutan Pacinko alias Pasukan Cina Kota karena selalu merampok toko emas milik orang Cina, dan selalu dilakukan siang bolong.

Kisah perampokannya yang paling terkenal terjadi di Jalan Cikini, Jakarta pada tahun 1979. Adegan perampokan itu mirip adegan film karena Johny dkk. terlibat tembak-menembak dan kejar-kejaran di Jalan Cikini Jakarta.  Mereka bersenjata lima pistol dan granat.

Johny tertangkap dan dijembloskan ke LP Nusakambangan. Dari Nusakambangan, dia bersama 11 penjahat lainnya berusaha melarikan diri, tapi usaha mereka gagal. Kisahnya kemudian dijadikan film dan dia menjadi bintangnya.

Dari petualangannya merampok toko emas selama kurang-lebih 10 tahun (1970-1980), Johny dkk. menggondol sekitar 120 kilogram emas. Sama denga Kusni, Johny dijuluki media sebagai “Robin Hood” karena selalu membagi hasil rampokannya kepada kaum papa. Kini, Johny hidup di Sukabumi dan dikenal sebagai tokoh agama.

Slamet Gundul
Slamet Gundul adalah pelaku 55 perampokan di Jakarta dan Surabaya. Spesialisasinya adalah perampok nasabah bank. Pada zamannya, dia pernah menggondol uang Rp 40 juta. Reputasinya merampok 11 kali dengan total hasil rampokan Rp 150 juta.

Selain merampok, Slamet yang lahir Malang di Jawa Timur, dikenal lihai meloloskan dari penggerebekan polisi. Dalam sebuah pengepungan di rumahnya di Pondok Kopi, Jakarta Timur, Slamet lolos setelah melompat tembok setinggi dua meter. Padahal polisi yang hendak menyergapnya, sebelumnya sudah berhadapan dengan Slamet yang masih pulas tertidur.

Pada tahun 1989, Mabes Polri memerintahkan Polda di seluruh Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara, untuk menangkap Selamet hidup atau mati. Dia tertangkap di Surabaya, dan dihukum penjara tapi kelihaiannya meloloskan menjadi cerita tersendiri. Beberapa menit sebelum disidangkan, dia bahkan bisa kabur dari penjagaan polisi. Belum jelas benar, nasib Slamet setelah ditangkap dan dipenjara.

Mat Peci
Disebut Mat Peci, karena perampok asal Garut, Jawa Barat selalu mengenakan peci. Dia terkenal sebagai resedivis yang melakukan aksinya di Bandung dan kenyang dengan penjara. Mat Peci tewas diberondong peluru pada tahun 1978, di dekat Stasiun Leles, Garut. Kisahnya kemudian difilmkan, persis seperti kisah Johny Indo.

Johny Sembiring
Sebelum ditembak oleh “orang tak dikenal” pada tahun 1996, Johny beberapa kali keluar-masuk LP Nusakambangan. Dia kemudian “bertobat” dan menjalankan bisnis penagh utang atau debt collector pada era 1980-an sampai 1990-an, dan kantornya sangat terkenal. Aksi Johny yang paling terkenal adalah ketika dia mengelabui PM Malaysia untuk mendapatkan uang pada 1960-an saat berlangsung ketegangan politik antara Indonesia dan Malaysia.

Pada masanya, bisnis penagih utang yang dijalankan oleh Johny adalah bisnis baru. Dari beberapa catatan, kematiannya termasuk misterius sampai hari ini. Kematiannya lalu dihubungkan tewasnya Letkol TNI-AU Steven Adam, 29 Mei 1983. Tapi para pengacara Johny membantah keterlibatan Johny dalam pembunuhan perwira menengah penerbang yang pernah menjadi pilot helikopter Presiden Soekarno itu.

Dalam persidangan kasus Steven, jaksa penuntut umum menyebut Steven sebagai bos sindikat narkoba. Dia berselisih dengan kelompok Robert dan Nico.

Robert adalah tetangga Steven, yang sempat menolong dan mengantar korban ke rumah sakit. Sedangkan Nico tak lain kapten polisi, yang menjadi kepala Bagian Operasi Polres Bogor yang kemudian divonis 18 tahun penjara dan dipecat dari Polri.

Perselisihan di antara mereka dipicu oleh tunggakan uang pembayaran hasil penjualan narkoba yang saat itu mencapai puluhan juta rupiah, dari Robert dan kawan-kawan. Jaksa menuding, Johny bergabung dengan kelompok Robert dan Nico dan mengeksekusi Steven dengan imbalan Rp 10 juta.  

Sumber : rimanews


Akses RiauAktual.Com Via Mobile m.riauaktual.com

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

comments powered by Disqus
shadow