HOT TOPIC

Putera Daerah Riau Berkiprah di Tingkat Nasional

Profil Jon Erizal, Bakal Calon Gubernur Riau 2014-2019

Dibaca: 383805 kali  Jumat,19 Oktober 2012 | 10:43:00 WIB
Profil Jon Erizal, Bakal Calon Gubernur Riau 2014-2019 Ket Foto : H. JON ERIZAL, SE, MBA

H. JON ERIZAL, SE, MBA
Bakal Calon Gubernur Riau 2013-2018
'Tunaikan Amanah untuk Riau Lebih Bermarwah'

Biodata
Nama : H. Jon Erizal, SE, MBA
Tempat/Tanggal Lahir : Bengkalis, 30 Desember 1961
Pendidikan : SD Negeri 8  Bengkalis, tamat 1974, SMP  Negeri 1  Bengkalis, tamat 1997, SMA  Negeri 24 Jakarta, tamat 1981, Fakultas Ekonomi, Universitas Jayabaya, Jakarta, tamat 1987, Magister  Manajemen, Pascasarjana UGM, Yogyakarta, tamat 2012.
Pekerjaan : Pengusaha bidang perminyakan dan gas.

Jabatan : Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN), Ketua Yayasan Masjid Cut Mutia, Jakarta, Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat.

Orangtua : (Alm) H. Muhammad Yatim Awal (Ayah), Hj. Torlina (Ibu)

Alamat : 1. Kampung Parit Bangkung, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, 2. Jalan Pertanian, Bengkalis, Riau, 3. Pusat Informasi H. Jon Erizal, SE, MBA, 4. Jl. Paus Ujung Ruko VI No. 4 Marpoyan Damai, Pekanbaru.

Alamat  kantor : Gedung Palma One Lt 11 Kav X2 No. 54 Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan
Nama Istri : Hj. Rita Benny Latief
Anak : 1. Vasthi  Juwita Permata Erizal, Program Magister (S2), University, Inggris. 2. Azura Fidya Kirana Erizal, mahasiswi Royal Melbourne Institute Technology (RMIT), Australia. 3. Vania Madina Erizal, siswi kelas I, SMA Bina Nusantara, Jakarta. 4. Bangga Alam Pradana Erizal, siswa kelas III  SMP Islam  Al Azhar, Jakarta

JON ERIZAL, PUTRA RIAU BERKIPRAH TINGKAT NASIONAL

Kampung Parit Bangkung tidak begitu populer bagi warga Bengkalis. Maklum, tak ada yang menonjol dari kampung kecil tersebut. Parit Bangkung hanya dikenal sebagai kampung yang dulunya kumuh, sempit, dan tidak terurus. Walaupun letaknya dekat ke kota, tapi masyarakatnya hidup jauh dari hingar bingar kota. Masyarakat Parit Bangkung kebanyakan hidup dari nelayan, buruh, tukang, dan pedagang kecil-kecilan.

”Menyebut Parit Bangkung itu, dulu orang malu-malu,” kata Jon Erizal, putra  asli Parit Bangkung itu. Lelaki kelahiran Bengkalis, 30 Desember 1961, ini menggambarkan Parit Bangkung sebagai kampung dengan kehidupan yang “keras”. Masyarakatnya harus banting tulang untuk menghidupi keluarga. Termasuk ibunda Jon Erizal, Hj. Torlina,  yang harus masuk kampung ke luar kampung menjajakan pakaian. “Ibu saya pedagang pakaian keliling,” ujar Jon tanpa malu-malu.

Kehidupan keras tadi juga merembet ke anak-anak mereka. Bertengkar dan berkelahi sesama besar, sudah menjadi kebiasaan. Begitu pun di sekolah. Tapi, Jon termasuk pendiam di sekolah. “Kita merasa jauh dibanding teman-teman yang kaya dan sebagian anak pejabat. Kita selalu di belakang-belakang, tak berani ke depan,” kata Jon mengisahkan masa sekolahnya. Jon memang menghabiskan masa kecil, SD dan SMP di Bengkalis.

Namun dibalik kehidupan yang keras, terbentuk pribadi yang tangguh dan pekerja keras. “Lingkungan yang keras tadi telah menempa saya menjadi laki-laki yang penuh percaya diri,” ujar putra pesisir berambut pendek dan disisir menyamping ini. Maka, ketika kelas satu SMA, Jon hijrah ke Jakarta mengikuti orangtua laki-lakinya yang bertugas di ibukota. Jon menamatkan SMA di Jakarta tahun 1981, dan meneruskan kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Jayabaya, tamat tahun 1987.

Selepas kuliah, Jon langsung terjun ke dunia profesional. Dia bekerja di berbagai perusahaan dan perbankan sampai 2002. Setelah itu, Jon banting stir menjadi entrepreneur sampai sekarang dengan bidang usaha perminyakan dan gas. “Menjadi entrepreneur itu lebih enak, dan lebih kreatif,” ujar Direktur Utama PT Arthindo Utama itu. Kini, Jon mengendalikan usahanya yang berada di daerah-daerah dari Jakarta. Dan tidak jarang dia terjun langsung ke lokasi-lokasi untuk meninjau jalannya perusahaan.

Di samping menjadi pengusaha, sejak 2010 lalu, Jon dipercaya sebagai Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN). Sosok putra Riau yang masih muda ini memang dikenal dekat dengan Ketua Umum DPP PAN M.Hatta Rajasa. “Pak Hatta bagi saya adalah sosok yang baik, rendah hati, pintar dan punya visi yang jauh ke depan, tidak hanya di bidang ekonomi, tapi lebih dari itu visi dalam membangun bangsa,” ujar suami dari  Rita Benny Latief ini.

Setelah terjun ke gelanggang politik, hari-hari Jon memang lebih sibuk lagi. Di akhir pekan, sibuk melakukan konsolidasi dan  kegiatan partai ke daerah-daerah se Indonesia, kadangkala mendampingi Ketua Umum DPP PAN. Hari-hari lain, mengurus perusahaan dan tidak jarang pula turun ke lapangan. Jon juga menyempatkan diri untuk menimba ilmu di Program Magister Manajemen, Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yoyakarta, tamat 2012.

Namun, sesibuk-sibuknya, Jon tidak pernah lupa dengan sang ibu, Hj. Torlina (78 tahun), yang tinggal di kampungnya di Bengkalis. “Mak (ibu,red), bagi saya sangat berarti. Walaupun berada di mana, saya selalu menelepon dan menghubungi mak. Nyaris tak ada kegiatan saya yang tanpa restu, mak,” kata Jon agak berkaca-kaca.  Sementara orangtua laki-laki Jon sudah meninggal pada tahun 1991.

Riau, bagi Jon, adalah segala-galanya. Bengkalis, tentu, apalagi. “Riau seharusnya menjadi perhatian khusus oleh pemerintah pusat. Sebab, Riau memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi bangsa dan negara ini. Bahasa Indonesia berasal dari Riau. Sebagian besar sumberdaya minyak dan gas nasional, dipasok dari Riau sejak puluhan tahun lalu. Tapi, Riau kok masih belum diperhitungkan di tingkat nasional? Di mana salahnya?,” kata mantan Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Bengkalis Riau, Jakarta, itu.

Karena itu, kebetulan dia dekat dengan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Jon berupaya membantu daerah kabupaten dan kota di Riau dengan mengambil kue pembangunan dari APBN untuk diserahkan ke kabupaten dan kota di Riau. Sejumlah kabupaten/kota seperti Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Pelalawan, Kampar dan Rokan Hulu, sudah menikmati hal ini.  “Apa yang bisa saya lakukan untuk Riau dan kampung saya, akan saya lakukan. Kapan lagi kita bisa membantu daerah kita, selagi kita masih punya akses yang baik ke kekuasaan di Jakarta,” ujarnya.

Tentu, sesibuk-sibuknya, Jon tak akan pernah lupa untuk pulang kampung. Sebuah rumah papan berarsitektur Melayu Bengkalis asli, telah dibangunnya di Bengkalis, untuk sang ibunda. “Mak, tak mau tinggal di Jakarta. Sebentar di Jakarta, lalu minta pulang ke kampung. Jadi, saya harus pula sering pulang kampung,” ujar bapak dari tiga putri dan satu putra ini yakni Vasthi Erizal, kuliah di program magistes di Inggris,  Fidya Erizal, kuliah di Melbourne, Australia, Vanya Erizal, siswa  SMA Bina Nusantara, Jakarta,  dan Bangga Erizal,  siswa SMP Al Azhar Jakarta. (fendri jaswir)

MESKI RAGA DI JAKARTA, HATI JON ERIZAL UNTUK RIAU

Meskipun berkiprah di tingkat nasional dan hari-harinya lebih banyak di Jakarta, tapi hati kecil Jon Erizal selalu terpaut dengan Riau. Bagaimana tidak, daerah ini adalah daerah kelahirannya. Cukup banyak kenangan manis dan pahit yang dialaminya, terutama ketika masih kecil di Bengkalis.  “Istri saya bilang, setiap saya akan pulang kampung ke Riau, wajah saya selalu memancarkan keceriaan. Apa yang saya makan selalu enak,” ujar penggemar mie kuah kacang khas Bengkalis ini.

Selain itu, yang mendorong Jon Erizal selalu bersemangat untuk pulang ke Riau adalah karena ibundanya, Hj. Torlina, yang kini sudah berusia 78 tahun, masih tinggal di Kampung Parit Bangkung, Bengkalis. “Mak saya tinggal dengan kakak di kampung. Beliau tak mau tinggal di Jakarta. Jadi, setiap saat saya menghubungi beliau, untuk mencek kondisinya sekaligus mohon do’a restunya,” kata pria santun ini.

Bagi Jon Erizal, Riau adalah segala-galanya. “Meski saya berada di luar Riau, namun sebenarnya hati saya di Riau. Saya terus memantau perkembangan daerah yang telah membesarkan saya, “ ujar Bendahara Umum DPP PAN ini. Di mata sosok yang pernah dinobatkan sebagai manajer terbaik nasional ini, Riau ibarat gadis cantik nan molek, dengan segala kekayaan sumberdaya alamnya. Jadi, semua orang ingin melirik dan meraihnya.

Namun, di balik itu, Riau masih tertinggal jauh dibanding daerah-daerah lainnya di Indonesia. Di segi infratruktur, masih banyak jalan dan jembatan yang rusak, masih banyak desa dan kampung yang sukar dijangkau. Di segi pendidikan, masih banyak yang harus dilengkapi, seperti teknologi dan informasi.  Begitu pula dengan kesehatan masyarakat, masih perlu perhatian khusus. “Walaupun APBD (anggaran pembangunan) kita besar, tapi masih belum cukup untuk mengejar ketertinggalan. Kita harus bersama-sama bahu membahu membangun Riau agar bargaining position  kita di pusat menjadi tinggi,” ujar mantan direktur salah satu bank swasta nasional itu.

Jon Erizal ingin Riau diperhitungkan di tingkat nasional. “Kita tidak iri dengan daerah lain, tapi paling tidak kita tidak ingin berada di bawah,” ujarnya. Banyak potensi yang bisa ditawarkan untuk meraih simpati nasional. Misalnya, kedekatan Bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu Riau. “Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Kita tak dapat bayangkan jika Bahasa Indonesia berangkat dari bahasa daerah lain, mungkin lama kita mempelajarinya. Jadi, peran Riau ini sangat menentukan,” ujar pengagum sastrawan Soeman HS, tetangganya di Bengkalis, itu.

Nah, dengan segala potensi dan akses yang dimilikinya, Jon Erizal ingin Riau sejajar dengan provinsi-provinsi lain dan diperhitungkan di tingkat nasional. Riau harus lebih bermarwah lagi. Dan ia siap untuk menjembatani itu semua.

APA KATA MEREKA TENTANG JON ERIZAL?

“Saya melihat Jon Erizal adalah sosok baru, muda dan punya kemampuan untuk memimpin Riau. Tinggal bagaimana mensosialisasikan ke masyarakat sehingga bisa diterima oleh masyarakat Riau secara keseluruhan.” (H. Tennas Effendy, Ketua Majelis Kerapatan Adat Melayu Riau)

“Orang selalu menunggu-nunggu sesuatu yang baru. Jon Erizal adalah sosok baru yang boleh jadi memberikan harapan baru bagi masyarakat Riau. Namun, yang perlu diingat, siapapun Gubernur Riau, jangan sampai melupakan orang-orang tua yang telah memberikan dukungan dan bimbingan buatnya.” (Al Azhar, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau)

“Kami yang tua-tua ini memang menaruh harapan kepada yang muda-muda seperti Jon Erizal. Siapa lagi yang akan meneruskan tonggak estafet ini kalau bukan yang muda-muda. Tapi calon-calon pemimpin Riau ini juga harus menghargai para orang-orang tua seperti kami.” (Kol Pur. H. Abbas Djamil, Ketua Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau)

“Pak Jon Erizal ini sudah lama saya kenal. Saya tahu persis kiprahnya di tingkat nasional dan perhatiannya kepada masyarakat Riau, kampung halamannya.  Saya yakin Pak Jon Erizal bisa memberikan perubahan untuk Riau yang lebih baik.” (H. Saleh Djasit, tokoh dan mantan Gubernur Riau)

“Lembaga Adat Melayu Riau telah mengeluarkan rekomendasi khusus tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin atau kepala daerah di Riau. Salah satu butirnya adalah bahwa yang berhak menjadi kepala daerah di Provinsi Riau adalah putra daerah Riau. Alas fikirnya, karena orang Riau sendirilah yang lebih tahu kondisi dan keadaan negeri ini secara utuh. Nah, Jon Erizal termasuk dalam kriteria ini karena dia anak jati Riau yang berasal dari Bengkalis.” (H. Azaly Djohan, tokoh  dan mantan Ketua LAM Riau)

“Orangnya muda dan otaknya juga pintar. Saya menaruh harapan kepadanya. Pesan saya, apapun yang akan dibangun, pendidikan itu harus nomor satu.” (Drs. H. Djauzak Achmad, tokoh pendidikan Riau)

“Kalau pribadi Jon Erizal, saya melihat oke. Baik itu kemampuan maupun pengalamannya. Cuma perlu sosialisasi agar bisa dikenal dan dipercayai masyarakat. Saya yakin jika bersama-sama dan cukup waktu dan dana, masyarakat akan mengenal dan mempercayainya.” (Prof. DR. Irwan Effendi, M.Sc., Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Riau)

“Saya melihat Jon Erizal punya potensi untuk membangun Riau. Pengalaman yang dimilikinya sudah lebih dari cukup untuk memimpin Riau. Secara pribadi saya mendukung beliau. Namun Jon Erizal harus kerja keras merangkul semua komponen masyarakat, rajin turun ke masyarakat dan tentu mengatur strategi secara politik.” (H. Basrizal Koto, Ketua Ikatan Keluarga Minang Riau)

“Saya mengenal Jon Erizal sejak kecil di Bengkalis. Dia berteman dengan anak saya. Pribadinya cukup baik, santun dan menghormati orangtua. Sebagai anak muda yang berprestasi di tingkat nasional, pastas untuk kita jadikan pemimpin di Riau.” (H. Himron Saheman, tokoh masyarakat Jawa, Riau)

“Jon Erizal orang yang matang di dunia usaha, terutama di sektor migas. Cocok untuk Riau yang memiliki potensi  minyak dan gas. Dia juga punya jaringan luas di swasta dan pemerintahan. Istilah Jawanya, dari sisi bibit, bebet dan bobot, Jon Erizal sudah memenuhi syarat (untuk menjadi Gubernur Riau).” (DR. Drajat Wibowo, pakar ekonomi dan Wakil Ketua Umum DPP PAN)

“Di mata saya Jon Erizal berpengalaman, masih muda, punya inovasi, kreatif, perhatian terhadap daerah dan seorang pengusaha sukses yang punya pergaulan luas, baik di kalangan politisi nasional maupun pemerintahan pusat.” (H. Djuharman Arifin, tokoh dan mantan Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau)

“Jon Erizal sangat layak untuk memimpin Riau. Jon termasuk sosok politisi muda bertalenta seorang pemimpin.” (Andi Yusran, pengamat politik Riau)

Akses RiauAktual.Com Via Mobile m.riauaktual.com

BERITA TERKAIT

TULIS KOMENTAR

comments powered by Disqus
shadow